Buka konten ini

STOK beras di Batam relatif aman, namun kenaikan harga, sekecil apa pun, menjadi isu yang sangat sensitif. Fluktuasi harga beras premium yang terus naik sejak Desember 2025 hingga awal Januari 2026 membuat masyarakat dan pelaku usaha waswas.
Pantauan di lapangan menunjukkan, kenaikan bertahap bahkan telah membuat harga beras premium menyentuh harga eceran tertinggi (HET). Contohnya, beras merek Harumas, Anak Ajaib, Horas, Minang Raya, Dunia Kijang, dan Ayam Pulen kini dijual di kisaran HET Rp15.400 per kilogram di hampir seluruh pasar tradisional hingga swalayan modern.
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menegaskan, meskipun stok beras relatif aman, fluktuasi harga beras dapat berdampak langsung pada pelaku usaha dan masyarakat.
Yang menjadi persoalan utama adalah harga. Kita harus memastikan harga beras yang beredar ke depan bisa sejalan dengan harga yang wajar,†ujar Amsakar di acara Business Matching Stabilisasi Pasokan dan Harga Beras di Gedung Graha Kepri, Batam Center, Kamis (15/1).
Ia menekankan, dibutuhkan intervensi strategis seperti optimalisasi tol laut atau pemberian subsidi apabila diperlukan. Menurut Amsakar, kebutuhan beras di Batam mencapai 115.235 ton per tahun atau sekitar 9.603 ton per bulan.
Ia meminta asosiasi pemasok dapat memastikan pasokan tersebut sambil menjaga harga agar tetap terjangkau bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Naik harga Rp50 saja, pelaku usaha bisa sesak napas. Karena itu, kami berharap tidak ada penyesuaian harga yang terlalu besar. Pemerintah Kota Batam bersama Satgas Pangan memastikan akan memfasilitasi jika kesepakatan bisnis antarpihak dapat terwujud,’’ ujarnya.
Kenaikan harga beras premium di Batam memang sudah terjadi beberapa kali sejak Desember 2025. Salah satunya pantauan Batam Pos di Pasar Summerland, Nongsa, Kamis (8/1) lalu, pedagang sembako menyesuaikan harga seluruh merek beras premium dan platinum.
Syukri, salah seorang pedagang, mengatakan kenaikan harga bertahap membuat harga beras premium nyaris tidak menyisakan keuntungan bagi pedagang.
Sejak Desember (2025) sudah naik terus, kalau tidak salah sudah lima kali. Merek Harumas dan Anak Ajaib yang awalnya Rp14 ribuan, sekarang sudah mentok di HET,’’ujarnya.
Kami sekarang cuma habiskan stok lama. Kalau belanja beras sekarang, pasti dijual di atas HET supaya ada untung. Tapi kalau jual di atas HET, kami bisa melanggar aturan,’’ tambah Syukri.
Ia berharap pemerintah dapat mengevaluasi dan menyesuaikan HET beras dengan kondisi di lapangan. Solusinya HET dinaikkan. Kalau jual di harga HET sekarang, kami sudah tidak ada untung lagi,’’ katanya.
Untuk mengantisipasi gejolak harga itulah, Pemerintah Provinsi Kepri bersama Pemko Batam menggelar acara tersebut. Kegiatan tersebut mempertemukan pemerintah daerah, asosiasi pemasok, distributor, hingga pelaku usaha guna merumuskan skema bisnis business to business (B-to-B) yang efektif. Tujuannya, menjaga ketersediaan beras sekaligus menekan potensi inflasi di Kepri.
Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, menekankan pentingnya menjaga stabilitas pasokan beras untuk tujuh kabupaten/kota: Batam, Bintan, Tanjungpinang, Karimun, Lingga, Natuna, dan Kepulauan Anambas. Kepri masih sangat bergantung pada suplai dari Sumatera dan Jawa sehingga harga beras harus tetap terjangkau.
Yang pertama, kita harus menjaga stabilitas ketersediaan beras sebagai satu kesatuan wilayah. Bagaimana suplai dari saudara-saudara kita di Sumatera dan Jawa dapat kita terima dengan harga terbaik,’’ ujar Nyanyang.
Menurut Nyanyang, kendala terbesar dalam pengendalian inflasi beras terletak pada harga, bukan kualitas maupun volume. Dengan jumlah penduduk Kepri sekitar 2,3 juta jiwa, termasuk sekitar 4,5 juta wisatawan domestik setiap tahun, stabilitas harga beras menjadi kunci agar tidak memicu gejolak pasar.
Komoditas penyumbang inflasi terbesar memang cabai, tetapi yang kedua dan selalu trending setiap tahun adalah beras. Karena itu saya minta semua pihak dalam skema B-to-B duduk bersama mencari solusi,’’ katanya.
Ia menambahkan, biaya logistik berpotensi menjadi beban terbesar dalam rantai distribusi beras. Namun, masih terbuka ruang untuk mencari solusi terbaik agar harga tetap terkendali.
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Distributor Bahan Pokok Batam, Aryanto, mengakui tren kenaikan harga beras terjadi hampir di seluruh daerah. Batam, sebagai wilayah nonpenghasil beras, dinilai ikut terdampak kondisi tersebut.
Memang terjadi kenaikan di banyak daerah, apalagi Batam bukan daerah penghasil. Namun sejauh ini harganya masih di bawah harga eceran tertinggi (HET),’’ujarnya.
Meski demikian, Aryanto memahami adanya penilaian masyarakat yang menganggap harga beras saat ini cukup tinggi. Ia menilai pemerintah dan pelaku usaha perlu mencari solusi konkret agar harga di tingkat konsumen dapat ditekan.
Solusi apa yang bisa kita upayakan, mungkin dari sisi ongkos kirim atau faktor lainnya. Untuk beras, bisa dikaji harga khusus, misalnya dari Jawa ke Batam. Kalau memungkinkan, ongkos kirimnya disubsidi,’’ kata Aryanto.
Menurutnya, subsidi ongkos angkut berpotensi membantu menekan harga beras di Batam. Opsi tersebut, kata dia, akan dibahas lebih lanjut bersama pemerintah.
Nanti akan kita tanyakan ke pemerintah, siapa tahu bisa ada subsidi,’’ ujarnya.
Terkait belum adanya respons distributor terhadap penawaran beras Bulog yang didatangkan dari Sulawesi, Aryanto menjelaskan saat ini sebagian distributor masih memiliki stok, meski jumlahnya tidak sebanyak biasanya. Selain itu, distributor memiliki sejumlah pertimbangan sebelum memutuskan mengambil pasokan.
Pasti distributor punya pertimbangan. Pertama soal harga, apakah dianggap wajar, lalu kualitasnya seperti apa. Setiap distributor punya spesifikasi beras berbeda untuk masing-masing merek’’ jelasnya.
Ia menegaskan kualitas beras yang beredar di Batam sangat beragam dan tidak bisa disamaratakan. Karena itu, dialog terbuka antara pemerintah, Bulog, dan distributor dinilai menjadi langkah paling tepat.
Kami menghargai upaya pemerintah melalui Bulog. Nanti akan dibahas apa yang perlu diperbaiki, kualitas yang diminta seperti apa, dan kualitas beras yang didatangkan seperti apa,’’ katanya.
Untuk diketahui, rencana mendatangkan 4.000 ton beras premium asal Makassar, Sulawesi Selatan, ke Batam hingga kini belum terealisasi. Hal itu disebabkan belum adanya distributor di Batam yang menyatakan minat membeli beras tersebut.
Pimpinan Perum Bulog Kantor Cabang Batam, Guido XL Pereira, mengatakan pengiriman beras premium tersebut akan dilakukan secara bertahap, dimulai dengan 1.000 ton pada tahap awal, dengan catatan sudah ada pembeli di Batam.
Pengiriman dilakukan bertahap. Tahap awal 1.000 ton, tetapi pembelinya di Batam harus sudah ada. Sampai sekarang belum ada,’’ujar Guido, Rabu (7/1).
Bulog Batam telah menerima sampel beras premium asal Makassar dan menawarkannya kepada sejumlah distributor. Namun hingga kini belum mendapatkan respons.
Sampel sudah kami terima dan sudah ditawarkan ke distributor. Lima distributor yang saya hubungi langsung, sampai sekarang belum ada respons,’’ katanya. (***)
Reporter : ARJUNA
Editor : RATNA IRTATIK