Buka konten ini

LINGGA (BP) – Kabupaten Lingga memperoleh 41 titik Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) berdasarkan Surat Keputusan (SK) penetapan wilayah dari Badan Gizi Nasional (BGN). Dari jumlah tersebut, sekitar 10 dapur telah dinyatakan siap 100 persen dari sisi pembangunan.
Meski demikian, dapur-dapur tersebut belum dapat beroperasi karena masih menunggu petunjuk teknis (juknis) dari BGN.
Wakil Bupati Lingga sekaligus Ketua Tim Satgas Percepatan Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Lingga, Novrizal, mengatakan hingga Januari 2026 baru 10 dari 41 titik dapur SPPG yang telah siap sepenuhnya untuk dibangun.
“Untuk dapur di wilayah 3T, saat ini masih dalam proses pembangunan. Dari 41 titik yang ditetapkan BGN, sudah ada kurang lebih 10 dapur yang siap 100 persen sampai hari ini,” ujar Novrizal, Jumat (16/1).
Namun, Novrizal menegaskan, meskipun sudah siap secara fisik, 10 dapur tersebut belum bisa langsung beroperasi.
“Kita masih menunggu juknis dari BGN untuk mengoperasikan 10 dapur SPPG yang sudah siap ini,” katanya.
Ia menjelaskan, pembangunan dapur SPPG di wilayah 3T tidak terlepas dari berbagai kendala, terutama terkait akses dan distribusi material.
“Kendala yang dihadapi dalam proses pembangunan antara lain akses pengiriman material. Jarak tempuh yang jauh serta biaya transportasi yang cukup tinggi menjadi tantangan tersendiri,” jelasnya.
Novrizal menambahkan, seluruh dapur SPPG yang beroperasi di wilayah terpencil wajib mengoptimalkan potensi lokal, baik dari sisi sumber daya manusia maupun sumber daya alam.
Pemerintah Kabupaten Lingga melalui Tim Satgas MBG akan terus memantau dan mengawal progres pembangunan dapur SPPG di wilayah 3T agar dapat segera diselesaikan.
“Kita akan terus memantau progres pembangunan dapur SPPG ini agar bisa segera rampung, sehingga siswa dan masyarakat di daerah 3T dapat merasakan manfaat dari program MBG,” tutupnya. (*)
Reporter : VATAWARI
Editor : GUSTIA BENNY