Buka konten ini

PASOKAN ayam beku di Kabupaten Kepulauan Anambas terputus sejak sepekan terakhir. Kondisi ini membuat masyarakat kesulitan mendapatkan salah satu bahan pangan utama, terutama di tiga pulau besar, yakni Jemaja, Matak, dan Siantan.
Terputusnya pasokan ayam beku berdampak langsung pada aktivitas jual beli di pasar tradisional maupun swalayan. Ayam beku yang biasanya mudah ditemukan kini menjadi barang langka di pasaran.
Pantauan Batam Pos di Pasar Tarempa, Jumat (16/1), menunjukkan sejumlah lapak pedagang ayam tampak kosong dan tidak beroperasi. Lapak-lapak yang biasanya menjajakan ayam beku terlihat tutup atau beralih menjual komoditas lain.
Kondisi serupa juga terjadi di beberapa swalayan di wilayah Siantan. Dua supermarket besar di kawasan tersebut terpantau tidak memajang stok ayam beku di etalase pendingin.
Ketiadaan ayam beku memaksa warga mengubah pola konsumsi sehari-hari. Sebagian masyarakat memilih beralih ke ikan laut yang relatif masih tersedia.
Seorang warga Tarempa, Prengky, mengaku sudah beberapa hari tidak menemukan ayam beku di pasaran. Menurutnya, stok ayam benar-benar kosong, baik di pedagang kecil maupun distributor lokal.
“Sudah tak ada lagi ayam, putus. Di distributor lokal pun juga tidak tersedia ayam. Terpaksa kita makan ikan saja,” ujar Prengky.
Ia menyebut salah satu penyebab terputusnya pasokan ayam adalah kapal pengangkut sembako dari Kijang, Kabupaten Bintan, yang tidak diizinkan berlayar akibat cuaca laut buruk dalam beberapa hari terakhir.
“Bukan hanya ayam, telur juga kosong. Kemarin memang ada telur datang pakai kapal roro, tapi jumlahnya tidak banyak,” kata Prengky.
Sementara itu, distributor lokal di Anambas, Ahak, membenarkan terjadinya kelangkaan pasokan ayam beku. Ia menyebut kondisi ini tidak hanya dipengaruhi faktor cuaca, tetapi juga pengetatan distribusi sembako oleh Bea Cukai Batam.
Ahak menjelaskan, selama ini sebagian besar pasokan sembako, termasuk ayam beku, didatangkan dari Kota Batam. Barang kemudian diangkut menggunakan mobil menuju Bintan sebelum dikirim ke Anambas melalui jalur laut. “Dari Bintan baru dikirim pakai kapal kargo dari Pelabuhan Kijang. Kita ikut terdampak aturan ketat dari Bea Cukai,” ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pihak distributor kini mulai menjalin komunikasi dengan PT JAPFA Bintan sebagai produsen ayam. Langkah ini ditempuh agar pasokan ayam dapat langsung dikirim dari Bintan ke Anambas.
“Kita sedang jajaki kerja sama dengan PT JAPFA. Dulu ayam beku kita datang dari Riau dan Sumatera Barat. Ke depan kita ambil dari Bintan supaya lebih aman dari kendala Bea Cukai,” tutur Ahak.
Di sisi lain, Kepala Bidang Perindustrian Kabupaten Kepulauan Anambas, Kasim, mengatakan pihaknya telah memantau langsung terputusnya pasokan sembako di daerah tersebut. Pemerintah daerah saat ini tengah berupaya mencari solusi agar kebutuhan masyarakat segera terpenuhi.
“Kami sedang berupaya mendatangkan beberapa item sembako, khususnya telur dan ayam. Untuk komoditas lain masih relatif aman, seperti beras, bawang, dan cabai,” kata Kasim.
Selain itu, pihaknya juga telah menyurati Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepulauan Riau. Surat tersebut berisi permohonan kemudahan distribusi agar barang kebutuhan pokok tidak mengalami hambatan, khususnya di wilayah perbatasan seperti Anambas. (***)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : GUSTIA BENNY