Buka konten ini

GELOMBANG protes nasional yang mengguncang Iran dilaporkan telah menelan korban jiwa dalam skala sangat besar. Laporan terbaru Human Rights Activists News Agency (HRANA), kelompok pemantau HAM berbasis di Amerika Serikat, mencatat jumlah korban tewas mencapai sedikitnya 2.571 orang.
Angka tersebut jauh melampaui catatan korban kerusuhan mana pun di Iran dalam beberapa dekade terakhir dan memunculkan kembali ingatan kelam kekacauan Revolusi Iran 1979.
Dari total korban, HRANA merinci 2.403 orang merupakan demonstran, sementara 147 korban berasal dari pihak pemerintah. Tragisnya, sedikitnya 12 anak-anak serta sembilan warga sipil yang tidak terlibat dalam aksi protes turut menjadi korban tewas. Selain itu, lebih dari 18.100 orang dilaporkan ditahan aparat keamanan.
Perwakilan HRANA, Skylar Thompson, menyampaikan keterkejutannya atas lonjakan angka korban tersebut kepada Associated Press.
Menurutnya, jumlah korban tewas kali ini mencapai empat kali lipat dibandingkan protes kematian Mahsa Amini pada 2022, padahal aksi terbaru baru berlangsung sekitar dua pekan.
Setelah sempat memutus total akses komunikasi, otoritas Iran mulai mengizinkan panggilan telepon ke luar negeri pada Selasa (13/1). Melalui sambungan telepon itu, para saksi mata di Teheran menggambarkan suasana kota yang mencekam dengan penjagaan aparat yang sangat ketat.
Di pusat kota, sejumlah gedung pemerintah dilaporkan hangus terbakar, sementara mesin-mesin ATM dirusak. Polisi anti-huru hara tampak berjaga di berbagai persimpangan jalan dengan perlengkapan lengkap, mulai dari helm, perisai, hingga senapan, didampingi petugas berpakaian preman. Meski sebagian toko mulai buka, suasana kota tetap sepi karena warga khawatir akan kemungkinan serangan dari Amerika Serikat.
“Pengiriman pesan teks masih terputus dan akses internet hanya terbatas pada situs-situs lokal yang disetujui pemerintah,” ujar seorang saksi mata yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan keras melalui platform Truth Social miliknya.
“Para Patriot Iran, TERUSLAH PROTES—KUASAI INSTITUSI KALIAN!!! Saya telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran sampai pembunuhan demonstran yang tidak masuk akal ini BERHENTI. BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN.”
Namun, beberapa jam kemudian Trump terlihat melunak saat berbicara kepada wartawan. Ia mengaku masih menunggu laporan yang benar-benar akurat sebelum mengambil langkah lebih jauh.
“Saya pikir mereka telah berperilaku buruk, tetapi itu belum dikonfirmasi,” kata Trump, merujuk pada pasukan keamanan Iran.
Pemerintah Iran bereaksi keras terhadap pernyataan tersebut. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang utama kekacauan.
“Kami menyebut nama-nama pembunuh utama rakyat Iran: pertama Trump, kedua Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu,” ujarnya.
Di tengah penindakan keras, televisi pemerintah Iran mengakui adanya kematian massal dengan menyebut negara memiliki banyak martir.
Pemerintah juga mengumumkan layanan kamar mayat gratis, langkah yang dicurigai para aktivis sebagai respons atas laporan mahalnya biaya pengambilan jenazah korban oleh keluarga.
Pemerintah Iran juga dilaporkan memburu terminal internet satelit Starlink. Warga di Teheran utara melaporkan adanya penggerebekan ke apartemen-apartemen yang diduga memiliki antena satelit tersebut. Meski demikian, para aktivis memastikan upaya penyediaan akses Starlink terus dilakukan untuk membantu komunikasi warga.
“Kami dapat mengonfirmasi bahwa langganan gratis untuk terminal Starlink berfungsi sepenuhnya. Kami telah mengujinya menggunakan terminal Starlink yang baru diaktifkan di Iran,” kata aktivis Mehdi Yahyanejad dari Los Angeles kepada Associated Press. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY