Buka konten ini

TEHERAN (BP) – Pemerintah Iran mengklaim situasi secara umum telah terkendali setelah demonstrasi masif yang berlangsung sejak akhir tahun lalu. Otoritas di Teheran berencana mempercepat proses hukum terhadap orang-orang yang ditangkap karena dituding melakukan aksi “teror” yang disebut-sebut mirip dengan metode ISIS.
Pemerintah Iran menyebut para pelaku tersebut sebagai “musuh Tuhan”.
“Jika seseorang membakar orang lain, memenggal kepala lalu membakarnya, itu berarti kami harus segera bertindak,” kata Ketua Mahkamah Agung Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, di sela kunjungannya ke sebuah penjara di Teheran tempat para tersangka ditahan, seperti dikutip AFP dari stasiun televisi pemerintah.
Ejei menyatakan persidangan akan digelar secara terbuka. Ia juga membuka kemungkinan banyak dari para tersangka dijatuhi hukuman gantung.
Amerika Serikat (AS), yang dalam beberapa hari terakhir terus “berbalas pantun” dengan Iran, langsung bereaksi keras. Departemen Luar Negeri AS melalui akun X berbahasa Farsi menyebut seorang demonstran berusia 26 tahun, Erfan Soltani, berpotensi menjadi orang pertama yang dieksekusi.
“Erfan adalah demonstran pertama yang dijatuhi hukuman mati, tetapi dia bukan yang terakhir,” tulis Departemen Luar Negeri AS, seraya menambahkan bahwa lebih dari 10.600 warga Iran telah ditangkap.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran akan mengambil “tindakan yang sangat keras” jika ancaman hukuman gantung terhadap para demonstran benar-benar dijalankan.
“TERUSLAH BERDEMO. Saya telah membatalkan semua rencana pertemuan dengan para pejabat Iran sampai pembunuhan terhadap para demonstran dihentikan. BANTUAN SEGERA DATANG,” tulis Trump melalui akun Truth Social yang ditujukan kepada warga Iran.
Namun, melalui akun X resmi Misi Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pemerintah Iran menilai peringatan AS tersebut hanya dalih untuk melakukan intervensi militer.
Iran bahkan menyinggung intervensi AS di Venezuela yang disebut-sebut berujung pada penculikan Presiden Nicolas Maduro.
Bisa Tembus Ribuan
Di luar AS, sejumlah negara Eropa turut mengecam langkah keras Iran dalam menangani demonstrasi. Iran Human Rights, organisasi berbasis di Norwegia, memperkirakan jumlah korban tewas selama protes mencapai 734 orang.
“Jumlah korban tewas sesungguhnya bisa menembus ribuan,” kata Direktur Iran Human Rights, Mahmood Amiry-Moghaddam.
Sementara itu, Kedutaan Besar Iran di Indonesia menilai demonstrasi di negaranya telah disusupi pihak-pihak yang disebut sebagai teroris bayaran. Awalnya, aksi unjuk rasa dilakukan oleh serikat pekerja serta kelompok ekonomi yang terdiri atas pengusaha dan pedagang, dengan motif persoalan pekerjaan dan dampak fluktuasi nilai tukar Rial Iran.
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengatakan pemerintah Iran menjamin kebebasan berekspresi dan berunjuk rasa secara damai sesuai amanat konstitusi. Namun, menurutnya, sejumlah aksi damai tersebut disalahgunakan oleh kelompok kecil yang melakukan kekerasan dan diduga dikendalikan dari luar negeri.
“Akibatnya terjadi perusakan properti publik, penyerangan terhadap aparat penegak hukum, serta penggunaan alat pembakar, bahkan senjata api,” kata Boroujerdi dalam rilis resmi, kemarin.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri RI Sugiono menilai upaya evakuasi warga negara Indonesia (WNI) dari Iran saat ini masih belum mendesak. Ia menyebut mayoritas WNI berada di kota-kota yang tidak menjadi pusat demonstrasi besar.
“Dari informasi terakhir yang saya terima, kebanyakan warga negara Indonesia di Iran adalah pelajar yang terkonsentrasi di Qom dan Isfahan, jauh dari Teheran,” ujarnya usai menyampaikan Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri 2026 di Jakarta, Rabu (14/1).
Meski demikian, Sugiono mengaku telah menginstruksikan Duta Besar RI di Iran untuk menyiapkan langkah-langkah kontingensi.
“Kita lihat dinamikanya,” pungkasnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK