Buka konten ini

Di sebuah rumah sederhana di Kelurahan Sungai Lumpur, Kecamatan Singkep, tubuh Dafri terbaring lemah. Pemuda 21 tahun asal Dabo Singkep itu kini hanya bisa menatap langit-langit rumah, berharap kakinya suatu hari kembali kuat menopang tubuhnya seperti dulu.
DAFRI mengalami kelumpuhan di bagian pinggang hingga kaki. Kondisi itu datang bukan seketika, melainkan melalui perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah kecelakaan kerja, jatuh dari pohon kelapa saat ia berusaha menghidupi ayahnya yang sakit.
Sejak ibunya meninggal dunia, Dafri hanya tinggal bersama sang ayah. Hidup mereka sederhana, bahkan jauh dari kata cukup. Ketika ayahnya terserang stroke ringan, Dafri memilih berhenti sekolah di bangku SMP.
Ia menggantikan peran pencari nafkah. Pekerjaan apa saja dilakoni, termasuk memanjat pohon kelapa pekerjaan berisiko yang akhirnya mengubah hidupnya.
Saat kecelakaan itu terjadi, Dafri terjatuh dan mengalami cedera serius. Ia sempat dirawat di RSUD Dabo Singkep sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Raja Ahmad Tabib, Kota Tanjungpinang. Hasil diagnosis dokter menyebutkan Dafri mengalami trauma medula spinalis, cedera serius pada sumsum tulang belakang.
Setelah sekitar satu pekan dirawat, Dafri dipulangkan ke Lingga. Bulan-bulan berikutnya ia menjalani terapi medis. Perlahan, kondisi tubuhnya membaik. Ia kembali bisa beraktivitas dan bekerja, meski tak sekuat sebelumnya.
Namun harapan itu runtuh pada September 2025.
“Pertengahan September kemarin tiba-tiba saya merasakan nyeri dan lemas pada bagian pinggang dan kaki. Saya coba duduk, tapi malah makin sakit,” tutur Dafri, Rabu (14/1).
Hari demi hari kondisinya memburuk. Hingga akhirnya, Dafri tak lagi mampu berdiri. Lumpuh. Ia kembali dibawa ke RSUD Dabo Singkep. Hasil pemeriksaan dokter menyebutkan sarafnya terjepit dan tulang belakangnya bengkok. Dokter menyarankan operasi sebagai jalan terbaik.
Namun rekomendasi medis itu berbenturan dengan kenyataan pahit. “Kondisi ekonomi kami sangat sulit. Saya tidak bisa bekerja, ayah saya stroke ringan. Kalau operasi, biayanya pasti besar,” kata Dafri lirih.
Tanpa kemampuan finansial, Dafri memilih jalan lain: terapi urut. Sebuah pilihan yang lebih terjangkau, meski risikonya besar dan hasilnya tak pasti.
Beberapa waktu menjalani terapi, perubahan kecil mulai terlihat. Kakinya yang semula tak bisa digerakkan sama sekali kini perlahan merespons.
“Kaki saya sudah bisa digerakkan sedikit. Tapi masih belum bisa duduk dan berjalan,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan, harapan Dafri tak sepenuhnya padam. Warga sekitar ikut bergerak. Ramdani, salah seorang warga setempat, mengatakan bantuan datang dari pemuda-pemuda di lingkungan mereka. “Untuk biaya terapi dan makan sehari-hari Dafri dan ayahnya, kami patungan bersama pemuda setempat. Mereka teman-teman Dafri,” kata Ramdani.
Gotong royong itu menjadi satu-satunya penopang hidup Dafri saat ini.
Dafri tak meminta banyak. Ia hanya ingin kembali sehatcukup sehat untuk bekerja dan menghidupi ayahnya.
“Saya hanya berharap bisa pulih dan bekerja lagi. Ayah saya sudah tidak bisa bekerja,” ucapnya pelan.
Kisah Dafri menjadi potret nyata kerasnya hidup di pelosok daerah. Seorang pemuda yang mengorbankan pendidikan demi keluarga, lalu harus menghadapi lumpuh di usia muda.
Kini, harapan besar disandarkan pada perhatian pemerintah dan pihak terkait, agar Dafri bisa mendapatkan pengobatan yang layak dan kesempatan untuk bangkit kembali. (***)
Reporter : VATAWARI
Editor : GUSTIA BENNY