Buka konten ini

DENMARK mulai mengerahkan peralatan militer dan pasukan pendahulu ke Greenland di tengah meningkatnya ketegangan terkait arti strategis pulau Arktik tersebut serta kembali menguatnya retorika Amerika Serikat (AS), demikian laporan media Denmark.
Penyiar lokal DR, Rabu (14/1), melaporkan bahwa satuan komando pendahulu telah dikirim ke Greenland untuk menyiapkan logistik dan infrastruktur bagi kemungkinan kedatangan pasukan Denmark dan sekutunya dalam jumlah lebih besar.
Tugas utama unit pendahulu tersebut mencakup memastikan fasilitas dan jalur pasokan siap digunakan untuk menerima pasukan utama pada tahap selanjutnya.
Penguatan pasukan tersebut diperkirakan melibatkan prajurit dari satuan Angkatan Darat Denmark guna memperkuat kehadiran Angkatan Bersenjata Denmark di pulau tersebut. Namun demikian, sebagian besar kemampuan tempur Denmark saat ini masih terikat pada komitmen Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di kawasan Baltik.
Greenland merupakan wilayah yang memiliki pemerintahan sendiri dalam Kerajaan Denmark dan selama ini menarik perhatian AS karena letaknya yang strategis serta kekayaan sumber daya mineralnya.
Denmark dan Greenland telah menolak usulan penjualan wilayah tersebut dan kembali menegaskan kedaulatan Denmark atas pulau itu.
Sebelumnya pada Selasa (13/1), Menteri Pertahanan Denmark Troels Lund Poulsen sudah memastikan rencana pihaknya untuk memperkuat dan memantapkan kehadiran militer secara lebih permanen di Greenland.
“Kami kini melangkah maju menuju kehadiran yang lebih besar dan lebih permanen di Greenland oleh pertahanan Denmark, sekaligus dengan partisipasi negara-negara lain,” kata Poulsen kepada wartawan.
Ia menambahkan bahwa sebagaimana terjadi pada 2025, ketika sejumlah negara NATO ikut serta dalam latihan dan kegiatan pelatihan di Greenland, hal serupa juga akan kembali terlihat pada 2026.
Sebelumnya pada Minggu (11/1), Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS harus “mengakuisisi” Greenland untuk mencegah pengambilalihan pulau tersebut oleh Rusia atau China.
Ia sebelumnya menyebut kepemilikan Greenland sebagai “kebutuhan mutlak” bagi keamanan ekonomi AS dan membandingkannya dengan kesepakatan properti berskala besar. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY