Buka konten ini
TINGGINYA pertumbuhan ekonomi Batam belum sepenuhnya berbanding lurus dengan penurunan angka pengangguran. Akademisi dan pengamat ekonomi Batam, Suyono Saputro, menilai kondisi ini dipicu karakter investasi yang masuk ke Batam yang cenderung padat modal dan menuntut kualifikasi tenaga kerja tertentu.
Menurut Suyono, Badan Pengusahaan (BP) Batam perlu melakukan inventarisasi menyeluruh terhadap jenis investasi yang masuk, apakah padat modal atau padat karya, serta seberapa besar daya serapnya terhadap tenaga kerja lokal.
“BP Batam perlu memetakan berapa investasi yang padat modal dan berapa yang padat karya. Dari situ baru bisa dihitung potensi serapan tenaga kerja yang realistis,” ujar Suyono, Selasa (13/1).
Ia menambahkan, persoalan ketenagakerjaan di Batam tidak bisa dilepaskan dari kualitas sumber daya manusia. Pemerintah perlu memiliki peta jelas struktur tenaga kerja mulai dari low skill, medium skill, hingga high skill dan mencocokkannya dengan kebutuhan industri yang berkembang.
“Tenaga kerja yang datang ke Batam juga beragam, dari low hingga high skill. Masalahnya bukan asal tenaga kerja, tapi kecocokan kualifikasinya,” katanya.
Secara teori, kata Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Batam itu, pertumbuhan ekonomi yang tinggi seharusnya menurunkan pengangguran dan kemiskinan. Namun di Batam, pertumbuhan ekonomi justru berjalan berdampingan dengan tingkat pengangguran yang masih relatif tinggi.
“Ini indikasi bahwa investasi yang masuk lebih banyak padat modal dan hanya menyerap tenaga kerja dengan keahlian khusus,” ujarnya.
Suyono juga menyoroti tren otomasi industri. Meski belum diterapkan merata, peralihan ke mesin dan robot dinilai tak terelakkan, terutama di sektor manufaktur elektronik.
“Tekanan biaya tenaga kerja bisa mendorong industri beralih ke otomasi. Tapi tidak semua sektor bisa digantikan mesin,” katanya.
Ia menyebut industri galangan kapal, jasa, dan permesinan masih sangat bergantung pada tenaga kerja manusia.
Karena itu, kunci utama bukan menolak investasi, melainkan memastikan kesiapan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri.
“Yang mendesak adalah memperjelas peta industri Batam dan menyiapkan tenaga kerja yang sesuai,” tegasnya.
Di kawasan industri Batam, mesin pabrik terus berputar dan lowongan kerja tetap terbuka.
Namun persoalan klasik masih membayangi: kesenjangan antara kebutuhan industri dan kesiapan pencari kerja.
Ketua Himpunan Kawasan Industri Batam (HKI Batam), Adhy Prasetyo Wibowo, menegaskan sektor manufaktur masih menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja di Kepri.
“Peluang kerja justru masih terbuka lebar dan cenderung meningkat, karena manufaktur tetap menjadi sektor utama,” ujarnya, Senin (12/1).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Sakernas menunjukkan industri pengolahan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar. Kontribusinya naik dari 20,81 persen pada Februari 2025 menjadi 24,16 persen pada Agustus 2025. Sekitar 65–68 persen pekerja juga berada di sektor formal.
Sementara itu, Pemko Batam mencatat penyerapan tenaga kerja baru mencapai 51.939 orang sepanjang Juli–September 2025, sejalan dengan lonjakan realisasi investasi hingga triwulan III 2025.
Namun tingginya kebutuhan tenaga kerja tidak otomatis diikuti tingkat penerimaan yang sebanding. Ketimpangan keterampilan masih menjadi penghambat utama.
Hal ini tercermin dari peluncuran platform Manajemen Talenta Batam (MANTAB).
Dari 33.795 lamaran kerja yang masuk, tingkat penerimaan hanya 5,56 persen.
“Hambatan utamanya adalah mismatch keterampilan dengan standar industri,” kata Adhy.
Kondisi ini menjelaskan mengapa tingkat pengangguran belum sepenuhnya terurai. BPS Kepri mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Batam pada Februari 2025 mencapai 6,45 persen dan pada Agustus 2025 menjadi 7,57 persen.
Pemerintah daerah merespons dengan memperbanyak pelatihan berbasis kompetensi, termasuk program khusus pemilik KTP Batam pada TA Perubahan 2025. Fokusnya mencetak tenaga kerja siap pakai.
Di sisi lain, HKI Batam berupaya menjadi penghubung antara industri, pemerintah, dan pendidikan vokasi—mulai dari SMK, politeknik hingga balai latihan kerja—agar kompetensi lulusan lebih sesuai kebutuhan perusahaan.
“Tujuannya sederhana, agar lulusan link and match sejak awal, bukan belajar dari nol saat masuk industri,” ujarnya.
Di tengah ekspansi manufaktur, Batam dihadapkan pada tantangan memastikan setiap peluang kerja diisi tenaga yang tepat.
“Pada akhirnya, persoalannya bukan berapa banyak lowongan tersedia, tetapi seberapa siap sumber daya manusia menjawabnya,” tutupnya. (*)
Reporter : YASHINTA – ARJUNA- AZIS MAULANA
Editor : RATNA IRTATIK