Buka konten ini

SEKUPANG (BP) – Produksi ikan air tawar di Kota Batam kini telah sepenuhnya mandiri. Seluruh pasokan ikan konsumsi, seperti lele, nila, dan gurame, diproduksi oleh pembudidaya lokal tanpa lagi bergantung pada kiriman dari luar daerah.
Kepala Dinas Perikanan Kota Batam, Yudi Admajianto, mengatakan ketergantungan Batam terhadap daerah lain saat ini hanya tersisa pada pengadaan bibit ikan. Bibit tersebut umumnya didatangkan dari sentra perikanan air tawar di Jawa Timur, seperti Sidoarjo dan Blitar.
“Untuk produksi ikan air tawar, Batam sudah mandiri. Tidak ada lagi ikan konsumsi yang dikirim dari luar. Yang masih dari luar hanya bibitnya,” ujar Yudi saat menerima kunjungan Batam Pos di kantornya, Selasa (13/1).
Kemandirian produksi itu ditopang pengembangan teknologi bioflok yang telah memasuki tahun ketiga penerapannya di Batam. Pada 2024, Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Perikanan menyalurkan 79 paket bioflok kepada kelompok pembudidaya.
Program tersebut berlanjut pada 2025 dengan penambahan 137 unit bioflok untuk kelompok pembudidaya baru. Penguatan kembali dilakukan pada 2026 dengan rencana penyaluran 96 unit bioflok tambahan.
Yudi menjelaskan, teknologi bioflok menjadi solusi efektif untuk mengatasi keterbatasan lahan di Batam sekaligus meningkatkan produktivitas ikan air tawar. Sistem ini dinilai mampu memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Dengan bioflok, budidaya bisa dilakukan di lahan terbatas, tetapi hasilnya tetap maksimal. Ini sangat sesuai dengan kondisi Batam,” katanya.
Selain bioflok, produksi ikan air tawar juga didukung kolam-kolam budidaya konvensional yang tersebar di berbagai wilayah. Kombinasi keduanya dinilai mampu memenuhi tingginya permintaan pasar.
Untuk produksi harian, ikan lele menjadi komoditas unggulan dengan hasil mencapai 5 hingga 8 ton per hari. Permintaan pasar terhadap lele masih sangat tinggi, disusul ikan nila dan gurame.
Sementara itu, produksi ikan nila tercatat sekitar 2 ton per hari. Dari sisi harga, lele saat ini dijual di kisaran Rp26 ribu hingga Rp28 ribu per kilogram, sedangkan ikan nila berada di rentang Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram.
Dengan terus diperluasnya program bioflok serta dukungan kolam budidaya konvensional, Pemerintah Kota Batam optimistis produksi ikan air tawar akan terus meningkat. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan sekaligus harga ikan di pasaran. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : GALIH ADI SAPUTRO