Buka konten ini

SURABAYA (BP) – Cadangan bauksit Indonesia diperkirakan mencapai 7,78 miliar ton. Namun penjualan sumber daya alam (SDA) mentah belum memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Pemerintah didorong untuk memaksimalkan bauksit menjadi alumina dan aluminium untuk meningkatkan nilai tambah.
Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch (ISEW) Ferdy Hasiman menilai bahwa langkah hilirisasi bauksit merupakan isu vital. Saat ini, Indonesia memiliki cadangan sebesar 7,78 miliar ton. Jika seluruh cadangan dijual dalam bentuk bahan mentah dengan asumsi harga USD 40 per metrik ton, potensi nilai ekonominya hanya sekitar USD 311,2 miliar.
Nilai ekonomi dari sumber daya alam mineral Indonesia tersebut melonjak ketika bauksit diolah lebih lanjut. Tiga ton bauksit bisa menghasilkan 1 ton alumina. Potensi produksi alumina diperkirakan mencapai 2,59 miliar ton. Dengan asumsi harga USD 400 per metrik ton, nilai ekonominya meningkat sekitar USD 1.037 miliar atau setara Rp 17.435 triliun.
”Pada tahap produksi aluminium, diperlukan 2 ton alumina untuk menghasilkan aluminium. Dengan demikian, estimasi produksi sekitar 1,29 miliar ton aluminium dan harga USD 3.000 per metrik ton,” jelasnya.
Salah satu proyek yang digencarkan oleh pemerintah yakni fasilitas penambangan dan pengolahan bauksit terintegrasi di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) yang merupakan inisiasi oleh Anggota Grup MIND ID yakni PT Aneka Tambang Tbk dan PT Indonesia Asahan Aluminium. ’’Pada 2025, MIND ID sudah menunjukkan langkah progresif yang sangat berarti. Mereka mulai meninggalkan
pola lama pertambangan ekstraktif dalam menekan defisit neraca pembayaran,’’ jelasnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI