Buka konten ini

BINTAN (BP) – Kapal penumpang KM Bukit Raya mengalami keterlambatan selama 11 jam sebelum akhirnya diberangkatkan dari Pelabuhan Sei Kolak, Kijang, Kabupaten Bintan, Selasa (13/1) sore dengan tujuan Anambas, Natuna, dan Pontianak.
Semula kapal dijadwalkan berangkat pukul 06.00 WIB, namun cuaca buruk saat pelayaran dari Belinyu menuju Kijang memaksa keberangkatan ditunda hingga pukul 17.00 WIB. Penundaan ini membuat ratusan penumpang harus menunggu hampir seharian di pelabuhan.
Sejak pagi, penumpang telah berdatangan dan menunggu di ruang tunggu maupun area sekitar pelabuhan, sebagian duduk di lantai sambil menjaga barang bawaan mereka.
Lamanya penantian juga menambah biaya bagi penumpang karena harus membeli makanan dan minuman di area pelabuhan.
Hamid, penumpang tujuan Letung, Anambas, mengatakan keterlambatan ini cukup membebani dirinya dan keluarga. “Lumayan lama juga berangkatnya hampir 12 jam. Kami tadi siang beli makan di pelabuhan, harganya mahal,” ujarnya.
Kepala Cabang Pelni Tanjungpinang, Putra Kencana, menjelaskan jumlah penumpang pada perjalanan kali ini sangat membludak. Dari total 1.247 penumpang, 962 orang mendapatkan tempat tidur atau seat, sementara 288 penumpang lainnya terpaksa berangkat sebagai non seat.
“Secara global penumpang yang mendapatkan seat 962 orang. Ada 288 orang yang tidak ada seat. Kita lakukan penambahan demi kemanusiaan, supaya mereka tetap bisa pulang ke daerahnya,” kata Putra.
KM Bukit Raya sebelumnya menurunkan 224 penumpang di Kijang sebelum menampung 1.094 penumpang baru. Lonjakan penumpang ini disebabkan kondisi cuaca ekstrem di perairan Kepulauan Riau, yang membuat beberapa kapal feri mengalami penundaan pelayaran.
Menurut Putra, KM Bukit Raya menjadi tumpuan utama warga Anambas dan Natuna karena lebih mampu menghadapi gelombang tinggi, yang mencapai hingga 4 meter, dibandingkan moda transportasi lain.
Dengan demikian, meski mengalami penundaan panjang dan ada penumpang non-seat, KM Bukit Raya tetap menjadi sarana vital untuk menghubungkan warga daerah perbatasan dengan pusat ekonomi dan layanan publik di Batam dan Kijang. (*)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : GUSTIA BENNY