Buka konten ini

Langit di atas Kepulauan Anambas dan Natuna sering kali tampak tenang dari kejauhan. Biru, luas, dan memesona. Namun di balik keindahan itu, laut yang sama juga menyimpan kerasnya hidup bagi warga yang tinggal di ujung utara Indonesia.
ANAMBAS dan Natuna adalah dua kabupaten terluar Provinsi Kepulauan Riau, berbatasan langsung dengan Malaysia dan Vietnam. Di sanalah Indonesia berdiri paling depan, dijaga oleh ombak dan angin yang tak selalu ramah. Letak geografis yang terpencil membuat kehidupan masyarakatnya penuh tantangan—terutama soal transportasi.
Untuk keluar daerah menuju Batam atau Tanjungpinang saja, warga harus mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya yang tak sedikit. Pilihan transportasi terbatas, jadwal tak selalu pasti, dan cuaca kerap menjadi penentu segalanya.
Di Anambas, pesawat dan kapal feri cepat memang tersedia. Namun bagi masyarakat kecil, harga tiketnya kerap tak terjangkau. Belum lagi ketika angin kencang dan gelombang tinggi datang, seluruh jadwal bisa batal dalam sekejap, tanpa kompromi.
Kondisi di Natuna bahkan lebih berat. Transportasi utama hanyalah pesawat, dengan ongkos hampir Rp2 juta sekali jalan. Angka yang terasa seperti tembok tinggi bagi keluarga nelayan, pegawai kecil, hingga mahasiswa yang hanya ingin pulang.
Di tengah segala keterbatasan itu, harapan masyarakat bertumpu pada satu nama: KM Bukit Raya.
Kapal besar milik PT Pelni ini telah puluhan tahun setia mengarungi laut perbatasan. Ia menghubungkan pulau-pulau terluar dengan pusat ekonomi di Batam, Kijang, dan Pontianak. Bagi warga Anambas dan Natuna, Bukit Raya bukan sekadar kapal penumpang.
Ia adalah urat nadi kehidupan.
Di dalam perut besinya, ikut berlayar logistik, orang sakit yang harus dirujuk, mahasiswa yang mengejar masa depan, pedagang kecil, hingga keluarga yang sekadar ingin pulang dan melepas rindu.
Saat musim libur dan cuaca ekstrem datang, KM Bukit Raya berubah menjadi kapal harapan. Ribuan orang berebut tiket, sebab hanya inilah moda transportasi yang masih sanggup menembus ganasnya laut utara.
Tak jarang, tiket ludes berminggu-minggu sebelum hari keberangkatan. Dermaga pun menjelma ruang penantian penuh doa, kecemasan, dan harap yang menggantung.
Itulah yang dirasakan Arsyi, warga Ranai, Natuna. Ia ditemui Batam Pos di Pelabuhan Sei Kolak, Kijang, Kabupaten Bintan. Wajahnya lelah, tapi matanya tetap menyimpan harapan.
Tiket KM Bukit Raya telah habis sejak sepekan sebelumnya. Namun Arsyi memilih datang langsung ke pelabuhan, berharap ada penumpang yang membatalkan perjalanan.
“Saya dapat tiket harus datang ke pelabuhan dulu. Karena berharap ada yang cancel,” ujarnya pelan.
Berjam-jam menunggu, harapannya akhirnya terjawab. Ia berhasil mendapatkan tiga tiket untuk keluarganya. Baginya, menunggu di pelabuhan adalah satu-satunya jalan.
“Kalau pakai pesawat enggak mampu,” katanya lirih, seolah menelan getir yang sudah terlalu akrab dalam hidupnya.
Perjuangan serupa dialami Babandi, Kepala Desa Batu Belah, Anambas. Sejak subuh ia sudah berada di pelabuhan, berburu tiket agar bisa kembali ke kampung halamannya.
Keberuntungan datang tak terduga. Kepala Bagian Protokol Pemkab Anambas, Syaiful Lizan, batal berangkat.
“Jam 13.00 WIB beliau kirim KTP dan kode booking. Alhamdulillah saya bisa pulang,” kata Babandi, dengan nada syukur yang sulit disembunyikan.
Di dermaga itu pula, terlihat bahwa sulitnya akses transportasi tak mengenal jabatan. Pejabat dan rakyat biasa berdiri sejajar, sama-sama berharap.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perhubungan Anambas, Nurullah, pun harus ikut antre dan berburu tiket bersama masyarakat.
“Saya dapat tiket non seat, ada penambahan. Butuh tiga tiket untuk keluarga. Alhamdulillah dapat,” ujarnya.
Menurut Nurullah, dalam kondisi cuaca ekstrem seperti sekarang, KM Bukit Raya menjadi andalan utama. Pesawat dan feri kerap terkendala, sementara kapal besar Pelni ini masih mampu berlayar.
Karena itulah, penumpang selalu membludak. Setiap orang yang naik membawa cerita dan kebutuhan mendesak urusan keluarga, ekonomi, pendidikan, hingga kesehatan.
Di atas geladak KM Bukit Raya, semua perbedaan melebur. Tak ada sekat jabatan, tak ada kasta sosial. Yang ada hanya manusia-manusia dari daerah perbatasan yang berjuang mempertahankan hidup dan ikatan dengan tanah air.
Selama KM Bukit Raya terus mengarungi lautan utara Indonesia, selama itu pula harapan warga Anambas dan Natuna tetap menyala. Ia bukan sekadar kapal, melainkan pahlawan senyap yang menjaga denyut kehidupan di batas terluar negeri. (***)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : GUSTIA BENNY