Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Arus modal global kian tegas berbelok ke energi bersih. Pada 2025, investasi energi terbarukan dunia diproyeksikan menembus USD 2,2 triliun atau setara Rp 37 kuadriliun, lebih dari dua kali lipat belanja energi berbasis bahan bakar fosil. Lonjakan itu menjadi sinyal kuat bahwa transisi energi global bukan lagi wacana, melainkan kenyataan.
Proyeksi tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres dalam Sidang Majelis Umum ke-16 Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Minggu (12/1). Mengutip Reuters, Guterres menyebutkan bahwa derasnya investasi energi bersih mencerminkan percepatan transisi energi global, seiring meningkatnya komitmen negara-negara dunia menekan emisi gas rumah kaca.
Menurut Guterres, penurunan emisi secara menyeluruh dan agresif harus segera dilakukan. Strateginya mencakup pengurangan penggunaan bahan bakar fosil, percepatan pembangunan energi terbarukan dalam skala besar, serta peningkatan efisiensi energi lintas sektor.
Namun, Guterres mengingatkan masih adanya pekerjaan rumah besar. Pada 2024, dunia mengucurkan sekitar USD 1 triliun untuk pembangunan pembangkit energi bersih.
Sayangnya, investasi jaringan listrik dan infrastruktur pendukung masih berada di bawah separuh angka tersebut. Kesenjangan ini berpotensi menghambat optimalisasi energi terbarukan.
Selain itu, hambatan struktural masih membayangi. Mulai dari proses perizinan yang lamban, keterbatasan kapasitas jaringan listrik, hingga tekanan rantai pasok global. Negara berkembang, terutama di Afrika, juga menghadapi kesulitan mengakses pembiayaan
terjangkau, meski memiliki potensi energi terbarukan yang melimpah.
61 Persen Tambahan Listrik
Dari dalam negeri, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi, dan Lingkungan Hidup Kadin Indonesia Bobby Gafur Umar menegaskan bahwa 2026 ditargetkan menjadi tahun akselerasi investasi hijau sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
“Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen, total investasi 2024–2029 harus mencapai sekitar Rp 13.032 triliun. Target 2026 diproyeksikan naik 14 persen dibandingkan target 2025,” ujarnya.
Bobby menambahkan, dalam 10 tahun ke depan, total penambahan kapasitas pembangkit listrik diperkirakan mencapai 69,53 gigawatt. Sekitar 61 persen atau 42,3 gigawatt di antaranya berasal dari energi terbarukan, ditambah 15 persen dari sistem penyimpanan energi.
“Ini menunjukkan masa depan energi sangat terkait dengan lingkungan hidup. Kadin harus menjadikan agenda ini sebagai fokus utama rencana kerja,” tandasnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI