Buka konten ini

MENTERI Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menanggapi belum terserapnya beras produksi dalam negeri, khususnya dari Sulawesi, di pasar Batam. Kondisi tersebut dinilai turut memicu kenaikan harga beras dan dikeluhkan masyarakat.
Amran menegaskan, penyerapan beras lokal harus menjadi prioritas agar petani tidak dirugikan. Ia mengingatkan, masuknya beras impor maupun selundupan saat stok nasional melimpah berpotensi menekan harga gabah di tingkat petani.
“Kami akan tindak tegas (yang berani impor, red). Kami akan cek langsung ke Batam,” ujar Amran kepada Batam Pos, saat menerima kunjungan media Jawa Pos Group di kediamannya di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (11/1).
Ia menyampaikan, Indonesia saat ini berada dalam kondisi surplus beras sehingga tidak membutuhkan pasokan dari luar negeri.
“Jangan ada penyelundupan beras dari luar negeri. Beras kita melimpah. Ambil dari Bulog, seluruh pedagang, karena kalau tidak, itu akan menyakiti petani kita,” tegasnya.
Amran menyebut Batam sebagai salah satu wilayah yang rawan menjadi pintu masuk beras selundupan. Karena itu, pemerintah akan turun langsung untuk memastikan distribusi beras berjalan sesuai ketentuan.
Ia juga mengimbau para pedagang dan distributor agar memanfaatkan stok beras Bulog, termasuk pasokan dari daerah penghasil seperti Sulawesi, sehingga harga kembali stabil dan kebutuhan masyarakat terpenuhi tanpa merugikan petani dalam negeri.
Sementara itu, Pimpinan Perum Bulog Kantor Cabang Batam, Guido XL Pereira menjelaskan, sebagian besar distributor di Batam belum dapat menerima tambahan pasokan beras premium Bulog. Alasannya, stok beras yang dimiliki distributor saat ini masih mencukupi.
“Dari distributor, informasinya stok mereka masih banyak. Sebagian besar beras didatangkan dari Jawa Barat dan beberapa daerah lainnya,” ujar Guido.
Meski demikian, ia memastikan stok beras di gudang Bulog Batam dalam kondisi aman, baik untuk jenis premium maupun medium. Untuk beras premium, Bulog Batam masih memiliki sekitar 24 ton yang berasal dari Subang. Sementara stok beras medium tercatat sekitar 2.000 ton.
“Stok di Bulog masih tersedia dan aman,” katanya.
Selain ditawarkan kepada distributor, Bulog Batam juga telah menyalurkan beras ke sejumlah ritel modern di Batam. Langkah ini dilakukan untuk memperluas akses masyarakat terhadap beras Bulog, khususnya jenis premium.
Hingga berita ini diturunkan, Ketua Asosiasi Distributor Bahan Pokok Kota Batam, Aryanto belum berhasil dikonfirmasi terkait rencana masuknya beras Bulog premium dari Makassar ke pasar Batam.
Seperti diberitakan sebelumnya, stok beras premium di Perum Bulog Kantor Cabang Batam terbilang melimpah. Namun, hingga kini serapan distributor masih rendah. Kondisi tersebut menjadi sorotan Komisi II DPRD Kepulauan Riau saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Gudang Bulog Batam, Jumat (9/1).
Anggota Komisi II DPRD Kepri, Wahyu Wahyudin mengatakan, Bulog Batam masih memiliki stok beras premium sekitar 24 ton. Selain itu, Bulog juga menyiapkan cadangan sekitar 4.000 ton beras di Sulawesi yang siap dikirim ke Batam.
“Stok sebenarnya aman dan bahkan melimpah. Masalahnya justru di sisi serapan. Sampai sekarang belum ada distributor yang memesan beras premium Bulog,” ujar Wahyu.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan persoalan baru jika tidak segera dicarikan solusi. Sebab, pengiriman beras dari Sulawesi membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu. Jika beras sudah dikirim tetapi tidak terserap pasar, risiko penurunan kualitas hingga kedaluwarsa tidak dapat dihindari.
“Kalau sudah dikirim tapi tidak ada yang mengambil, tentu ada risikonya. Padahal Bulog ditugaskan pemerintah untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan,” katanya.
Wahyu menilai, rendahnya minat distributor perlu menjadi perhatian serius, terlebih menjelang Ramadan dan Idulfitri yang biasanya diikuti peningkatan konsumsi beras. Ia menegaskan, ketersediaan beras premium Bulog penting untuk menahan laju kenaikan harga di pasar agar tetap sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Kami berharap distributor mulai menyerap beras premium Bulog. Kami juga akan mengkaji penguatan regulasi, termasuk kemungkinan peraturan gubernur, agar distribusi berjalan lebih optimal,” ujarnya.
Ia menambahkan, kualitas beras premium Bulog tidak kalah dengan produk sejenis yang beredar di pasaran. Di sejumlah daerah di Pulau Jawa, beras premium Bulog bahkan telah diterima dengan baik oleh konsumen.
“Di Jawa beras Bulog ini laris dan rasanya juga bagus. Di Batam mungkin masih kurang sosialisasi sehingga masyarakat belum banyak mengetahui,” tutup Wahyu. (***)
Laporan : FISKA JUANDA – YASHINTA
Editor : RATNA IRTATIK