Buka konten ini

Dari ibu hamil hingga lanjut usia, dari layanan kesehatan jiwa hingga anak sekolah, semuanya dilayani tanpa terkecuali. Puskesmas Tanjung Buntung menjawab berbagai indikator penilaian komprehensif dengan kekompakan tim yang bekerja melayani dalam senyap namun konsisten.
PAGI itu, Ballroom Hotel Golden View Batam terasa berbeda. Deretan kursi terisi tenaga kesehatan dari seluruh penjuru Kota Batam. Wajah-wajah yang sehari-hari akrab dengan meja pendaftaran, ruang tindakan, hingga posyandu kelurahan, tampak menahan harap menanti satu pengumuman penting: hasil penilaian kinerja tahunan puskesmas.
Saat nama Puskesmas Tanjung Buntung kembali dipanggil sebagai Juara Umum 1, tepuk tangan panjang pun pecah. Bukan sekali, bukan dua kali. Tiga tahun berturut-turut.
Sebuah hattrick prestasi yang menegaskan konsistensi puskesmas di kawasan pesisir itu dalam menjaga mutu pelayanan kesehatan primer di Batam.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr. Didi Kusmarjadi, dalam ajang CATERMAS (Capaian
Terbaik Program Kesehatan Masyarakat), Kamis (8/1).
Momen itu menjadi simbol pengakuan atas kerja senyap para tenaga kesehatan—yang lebih sering berhadapan dengan keluhan warga ketimbang sorotan publik.
Bagi Dinas Kesehatan Kota Batam, CATERMAS bukan sekadar seremoni tahunan. Sejak diterapkan pada 2021, sistem ini menggantikan metode stratifikasi puskesmas yang dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kinerja secara menyeluruh.
“Melalui CATERMAS, kami menilai capaian terbaik dari setiap program. Bukan lagi sekadar peringkat, tetapi bagaimana puskesmas mampu menjalankan program kesehatan secara optimal dan berkelanjutan,” ujar dr. Didi dalam sambutannya.
Menurutnya, CATERMAS juga menjadi ruang konsolidasi. Seluruh puskesmas didorong memiliki persepsi yang sama dalam mendukung program kesehatan nasional maupun daerah.
“Tujuan akhirnya satu, memastikan masyarakat Batam mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, merata, dan berkesinambungan,” tegasnya.
Penilaian CATERMAS dilakukan sepanjang Januari hingga Desember 2025. Sebanyak 44 kategori penghargaan menjadi indikator penilaian, mulai dari aspek manajerial, kedisiplinan pegawai, hingga keberhasilan program kesehatan masyarakat.
Indikator tersebut mencakup pengelolaan website puskesmas, e-monev, realisasi fisik dan keuangan, manajemen keuangan, serta tata kelola sediaan farmasi. Kepatuhan laporan persediaan obat, vaksin, BMHP, laporan mutu puskesmas, Penilaian Kinerja Puskesmas (PKP), hingga ketercapaian Kapitasi Berbasis Kinerja (KBK) juga menjadi perhatian.
Aspek kolaborasi lintas sektor, jejaring puskesmas, dan kinerja P3K turut dinilai. Begitu pula program promosi dan pemberdayaan masyarakat seperti pengelolaan posyandu dan kader, Germas yang inovatif, kesehatan kerja dan olahraga, hingga pelaksanaan Integrasi Layanan Primer (ILP).
Di sisi layanan langsung, penilaian menyentuh pelayanan kesehatan ibu hamil, ibu nifas, bayi baru lahir, balita, kesehatan jiwa, lanjut usia, hingga pelayanan kesehatan usia pendidikan dasar.
“Indikator ini kami rancang agar penilaian benar-benar komprehensif, mencerminkan kinerja puskesmas dari hulu ke hilir,” jelas dr. Didi.
Di balik prestasi itu, Plt Kepala Puskesmas Tanjung Buntung, dr. Nazia Helni, menyebut kekompakan tim sebagai kunci utama keberhasilan. Seluruh elemen terlibat—mulai dari tenaga medis, paramedis, staf administrasi, hingga kader kesehatan di lapangan.
“Kami bersyukur dan bangga. Ini hasil kerja keras seluruh tim yang tetap solid, disiplin, dan saling menguatkan,” ujar dr. Nazia, didampingi Kepala Tata Usaha Rozie Zurfi Chandra, SKL, MM.
Ia mengakui, tantangan pelayanan di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Buntung cukup kompleks. Karakter masyarakat yang beragam menuntut pendekatan pelayanan yang adaptif, komunikatif, dan konsisten.
“Setiap program kami jalankan bersama. Evaluasi dilakukan rutin, kekurangan dibenahi, dan inovasi terus dicoba,” katanya.
Meski telah mencatatkan hattrick juara umum, Puskesmas Tanjung Buntung memilih untuk tidak larut dalam euforia. Prestasi ini justru dijadikan pijakan untuk meningkatkan standar pelayanan.
“Kami tidak ingin cepat puas. Capaian ini menjadi tanggung jawab moral untuk bekerja lebih baik lagi,” tegas dr. Nazia.
Ia berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi pemantik semangat bagi puskesmas lain di Batam. Kompetisi yang sehat, menurutnya, akan berdampak langsung pada peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
CATERMAS tahun ini sekaligus menegaskan komitmen Dinas Kesehatan Kota Batam dalam mendorong transformasi layanan kesehatan primer. Melalui penilaian yang objektif dan transparan, setiap puskesmas ditantang untuk terus berbenah.
“Kami berharap CATERMAS menjadi budaya kerja, bukan sekadar agenda tahunan—budaya untuk bekerja lebih terukur, disiplin, dan berorientasi pada masyarakat,” tutup dr. Didi.
Dari kawasan pesisir hingga pusat kota, puskesmas-puskesmas di Batam terus bergerak. Dan di antara langkah-langkah itu, Puskesmas Tanjung Buntung kembali membuktikan: konsistensi, kerja tim, dan dedikasi adalah fondasi utama pelayanan kesehatan yang berprestasi. (***)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : Ratna Irtatik