Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Pergerakan indeks harga saham Gabungan (IHSG) masih diprediksi menunjukkan taringnya di awal 2026. Hal itu ditopang rotasi sektor global dan fundamental ekonomi domestik.
Pengamat pasar modal Hans Kwee menilai, perubahan preferensi investor global menjadi salah satu pendorong utama sentimen positif bagi IHSG. Di bursa Amerika Serikat, investor mulai meninggalkan saham-saham berbasis AI yang dinilai belum memberikan imbal hasil nyata, dan beralih ke saham-saham yang telah mampu memonetisasi kinerjanya.
“Selain itu, saham value lebih diminati dibanding growth serta saham small caps. Investor tampaknya mulai lebih rasional dan memilih emiten yang sudah terbukti menghasilkan,” ujar Hans, Minggu (11/1).
Dari sisi kebijakan moneter global, data nonfarm payrolls Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari ekspektasi, disertai turunnya tingkat pengangguran, membuka peluang pemangkasan suku bunga The Fed hingga dua kali sepanjang 2026. Meski demikian, pada Januari ini bank sentral AS itu diperkirakan masih akan menahan suku bunga acuannya.
Di tengah sentimen positif tersebut, pasar global tetap dibayangi risiko geopolitik. Konflik Rusia–Ukraina yang belum usai, gejolak di Iran, hingga penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro memicu volatilitas harga minyak dunia dan memengaruhi pergerakan bursa global.
Namun, kondisi itu dinilai tidak terlalu menggoyang fondasi ekonomi Indonesia. Menjelang akhir 2025, aktivitas manufaktur masih bertahan di zona ekspansif, inflasi terjaga, serta neraca perdagangan terus mencatat surplus. Faktor-faktor tersebut menjadi bantalan kuat bagi optimisme pasar saham domestik di 2026.
“Pekan depan pasar menantikan data inflasi konsumen dan produsen serta penjualan ritel AS. IHSG berpotensi konsolidasi menguat dengan support di kisaran 8.732–8.900 dan resistance 9.000–9.050,” kata Hans.
Dari sisi aktivitas pasar, Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Kautsar Primadi Nurahmad mengungkapkan, sepanjang periode pekan lalu (5/1 sampai (9/1) terdapat pencatatan tiga obligasi dan satu sukuk baru dengan nilai Rp 216,97 triliun.
Sementara itu, aktivitas perdagangan saham melonjak signifikan. “Rata-rata volume transaksi harian naik 48,08 persen menjadi 61,78 miliar lembar saham, dengan nilai transaksi harian meningkat 44,68 persen menjadi Rp 31,45 triliun. Frekuensi transaksi juga melonjak 42,74 persen menjadi 3,98 juta kali per hari,” paparnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI