Buka konten ini

Di tepian Hulu Riau Sungai Carang Tanjungpinang, jejak kejayaan Melayu klasik tempo dulu yaitu Istana Kota Lama, masih tersisa dalam kesunyian.
DI antara pepohonan dan aliran sungai yang dahulu sibuk dilayari kapal, masih berdiri sisa-sisa tembok Istana Kota Lama yang legendaris itu.
Istana Kota Lama di Hulu Riau Sungai Carang Tanjungpinang itu, pernah memainkan peran penting dalam lintasan historis Kesultanan Riau Lingga.
Keberadaan Istana Kota Lama tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik regional yang melibatkan kekuatan Melayu, Bugis, hingga kolonial.
Berdasarkan catatan sejarah, kawasan Hulu Riau pernah menjadi ibu kota Kesultanan Riau Lingga setelah kejatuhan Melaka ke tangan Portugis.
Istana Kota Lama kemudian dibangun sebagai kediaman sultan sekaligus pusat pemerintahan dan administrasi Kesultanan Riau Lingga.
Dari Istana Kota Lama di tepian Sungai Carang Tanjungpinang ini, kebijakan dirumuskan, hubungan diplomatik dijalin, serta roda pemerintahan dijalankan.
Selain itu, sekitar abad 17 hingga abad 18, istana legendaris yang terletak di kawasan strategis, menjadi pusat perdagangan, ekonomi dan kebudayaan.
Namun, akibat konflik dan tekanan eksternal, terutama dari pihak kolonial, membuat pusat pemerintahan akhirnya berpindah-pindah.
Asal Usul, Latar Belakang Sejarah dan Puncak Kejayaan
Menurut catatan sejarah, kawasan Hulu Riau di Sungai Carang mulai berkembang sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan sejak 1673.
Peneliti Sejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dedi Arman menjelaskan, saat itu, Laksamana Tun Abdul Jamil atas perintah Sultan Abdul Jalil Syah (Sultan Johor ke-8), membuka kawasan Hulu Riau Tanjungpinang.
”Hulu Riau dibuka sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan Kesultanan Johor. Proses ini menandai lahirnya Bandar Riau,” jelas Dedi.
Kawasan ini kemudian menjadi sangat dikenal sebagai pusat yang ramai dan strategis, termasuk dalam jalur perdagangan Selat Melaka.
Lokasi yang strategis di Hulu Riau Sungai Carang Tanjungpinang, memudahkan akses laut sekaligus melindungi pusat pemerintahan dari ancaman musuh.
”Di bawah pemerintahan Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah (Sultan Johor ke-11) pada 1719, ibu kota Kesultanan dipindahkan dari Johor ke Hulu Riau Tanjungpinang,” sebut Dedi.
Di tempat ini kemudian Istana Kota Lama dibangun dan mencapai puncak statusnya dan berjaya sebagai pusat pemerintahan, diplomasi dan perdagangan.
Dalam masa kejayaannya, kawasan Hulu Riau menjadi jantung aktivitas ekonomi dan budaya, bersaing dengan pusat perdagangan lain di Asia Tenggara.
Perdagangan rempah, kain dan barang dagangan lain mengalir melalui pelabuhan ini, menjalin hubungan dengan pedagang dari berbagai penjuru dunia.
Dedi melanjutkan, kawasan Istana Kota Lama telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya. Namun sayangnya, perhatian terhadap pelestarian situs ini belum optimal.
Keberadaan Istana Kota Lama belum sepenuhnya mendapat perhatian. Minimnya perawatan membuat situs ini, kian terpinggirkan. Banyak fasilitas dan struktur pendukung yang mengalami kerusakan.
”Kini yang tersisa dari Istana Kota Lama adalah puing-puing bangunan, struktur batu serta fondasi yang menjadi petunjuk keberadaan istana,” jelasnya.
Kini, Istana Kota Lama yang sarat nilai sejarah itu, semakin rebah dan tidur panjang serta tergerus waktu. Perlahan terlupakan oleh generasi masa kini akan kejayaan Tanjungpinang tempo dulu.
Situs sejarah ini juga menjadi pengingat bahwa Tanjungpinang bukan hanya kota modern dan berkembang, melainkan kota yang sarat dengan narasi sejarah.
Upaya pelestarian, dokumentasi dan pengenalan historis kepada generasi muda menjadi kunci agar situs ini tidak sekadar menjadi reruntuhan.
”Istana Kota Lama atau Istana Kota Rebah bukan sekadar situs fisik, tapi merupakan simbol sejarah di Hulu Riau,” sebutnya.
Menurut Dedi, warisan sejarah ini memberikan pelajaran penting bagi generasi mendatang untuk memaknai dan menghargai jejak historis Tanjungpinang tempo dulu.
Tidak hanya itu, Istana Kota Lama adalah situs yang menyimpan cerita kejayaan perdagangan dan perjuangan identitas Melayu tempo dulu.
”Meskipun kini hanya tinggal reruntuhan, nama Istana Kota Lama tetap menjadi catatan yang tidak terpisahkan dari sejarah kerajaan di Nusantara,” jelasnya.
Jejak Arkeologis, Nilai Sejarah dan Upaya Pelestarian
Seiring waktu, Istana Kota Lama ditinggalkan. Keberadaan bangunannya pun mengalami kerusakan akibat faktor alam dan usia.
Sebagian struktur istana roboh, sehingga melahirkan sebutan baru di kalangan masyarakat setempat untuk Istana Kota Lama yaitu Istana Kota Rebah.
Jika dikelola dengan baik, Istana Kota Lama dapat menjadi pusat edukasi sejarah dan destinasi wisata budaya di Tanjungpinang dan Kepulauan Riau.
Upaya pemerintah setempat, seperti pembangunan pelantar kayu dan kawasan hutan bakau sebagai bagian wisata edukatif, pernah dilakukan.
Namun sejumlah fasilitas mengalami kerusakan dan terbengkalai sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi pelestarian warisan sejarah ini.
Meskipun tidak lagi tampak utuh, keberadaan situs Istana Kota Lama ini menyimpan nilai arkeologis dan historis yang tinggi.
Sebab kawasan ini dinilai sebagai bukti nyata kejayaan peradaban Melayu di Hulu Riau Sungai Carang Tanjungpinang, Pulau Bintan.
Menurut Sejarah Kepri, Dr. Anastasia Wiwik Swastiwi, peninggalan di situs ini berupa fondasi sepanjang 400 meter dan tembok lebar 30 hingga 45 centimeter.
Struktur sisa tembok yang terbuat dari kerikil bauksit dicampur semen ini, berjarak 30 meter dari garis pantai sisi selatan.
”Selain itu ada makam yang ditandai dengan nisan sederhana yang terbuat dari batu alam,” jelas Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Kepri ini.
Berdasarkan pengamatan, jenis dan arsitektur bangunan (Istana Kota Lama), sulit untuk diidentifikasi. Sebab struktur yang tersisa hanya fondasi dan tembok di beberapa bagian.
Namun dari peninggalan yang tersisa, dapat diidentifikasi bahwa bangunan tersebut mengarah ke selatan dan dengan adanya bagian pintu gerbang.
”Yang jelas, denah ini menunjukkan bahwa bangunan ini dulu nya cukup luas,” jelas Wiwik.
Di sisi lain situs ini, terdapat pelantar modern yang berada di hutan bakau tampak rusak. Tidak hanya pelantar, ponton dermaga di kawasan Istana Kota Lama juga kini mengalami kerusakan parah.
Dinas Budaya dan Pariwisata Tanjungpinang menyatakan bahwa pelantar tersebut memang telah lama tidak difungsikan karena rusak.
Meskipun demikian, Dinas Budaya dan Pariwisata Tanjungpinang telah menyurati Dinas PUPR Tanjungpinang untuk melakukan uji kelayakan kontruksi jembatan di situs Istana Kota Lama.
”Sudah kamu surati PU untuk melakukan uji kelayakan kontruksi,” kata Kepala Dinasi Budaya dan Pariwisata Tanjungpinang, Nazri, beberapa waktu lalu.
Nazri mengaku tidak mengetahui secara pasti kapan pelantar beton tersebut dapat diperbaiki. Sebab, pihaknya masih menunggu hasil uji kelayakan dari Dinas PUPR dan ketersedian anggaran.
Selain itu, ia juga tidak mengetahui secara pasti berapa anggaran yang dikucurkan untuk memperbaiki pelantar tempat wisata tersebut.
Jika telah diperbaiki, pelantar beton itu dapat dijadikan tempat wisata hutan mangrove. Sehingga, pengunjung tidak hanya menikmati wisata sejarah saja.
”Angkanya belum bisa dipastikan, akan kami hitung apa yang perlu diperbaiki,” tambah Nazri. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RATNA IRTATIK