Buka konten ini

LINGGA (BP) – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Lingga mencatat, sepanjang 2025, hipertensi dan diabetes melitus menempati posisi tertinggi penyakit yang diderita masyarakat.
Berdasarkan rekapitulasi data dari RSUD dan puskesmas di Lingga, sebanyak 11.487 warga menderita hipertensi, sementara 7.341 orang mengalami diabetes melitus.
Eny Rozanty, Kasi Pelayanan Kesehatan Dinkes PPKB Lingga, mengatakan hipertensi dan diabetes melitus umumnya dipicu oleh pola hidup yang tidak sehat, istirahat tidak teratur, serta faktor genetik dari orang tua.
“Untuk hipertensi dan diabetes melitus biasanya disebabkan pola makan dan istirahat yang tidak baik. Misalnya, jika sudah jam 20.00 WIB masih mengonsumsi makanan tinggi glukosa, dapat memicu diabetes melitus,” jelas Eny, Jumat (9/1).
Ia menambahkan, pasien yang telah positif mengidap hipertensi atau diabetes tidak dapat sembuh total. Peran tenaga medis adalah memberikan obat dan edukasi agar tekanan darah serta kadar gula tetap stabil.
“Hipertensi dan diabetes melitus tidak bisa sembuh total, hanya bisa distabilkan dengan mengonsumsi obat dan menjaga pola hidup,” ungkapnya.
Eny menekankan, jika penderita tidak menjaga pola hidup dengan baik, risiko komplikasi serius bisa terjadi. Diabetes yang parah bisa berujung pada amputasi, sedangkan hipertensi yang tidak terkendali berpotensi memicu stroke.
“Hipertensi dan diabetes melitus bisa mengakibatkan komplikasi penyakit serius. Untuk diabetes bisa sampai amputasi, dan hipertensi bisa menyebabkan stroke,” tegasnya.
Ia juga mengimbau warga yang sudah menderita kedua penyakit ini untuk rutin melakukan pengecekan di puskesmas atau RSUD setiap bulan.
“Jangan lupa melakukan pengecekan tekanan darah dan kadar gula setiap bulan di puskesmas atau RSUD,” ujar Eny.
Bagi masyarakat yang belum menderita, Eny menekankan pentingnya menjaga pola makan dan gaya hidup sehat sebagai upaya pencegahan.
“Mencegah lebih baik daripada mengobati. Menjaga pola makan dan hidup sehat adalah kunci utama,” tutupnya. (*)
Reporter : Vatawari
Editor : Gustia Benny