Buka konten ini
KASUS Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau dikhawatirkan akan melonjak di tahun 2026 ini. Di mana pada Januari ini, sudah terdapat 14 kasus DBD.
Sementara sepanjang 2025. Dinas Kesehatan (Dinkes) Tanjungpinang mencatat sebanyak 478 kasus terjadi di ibu kota provinsi tersebut.
Dari 18 kelurahan yang ada, Kelurahan Batu 9 dan Pinang Kencana menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak. Di Batu 9 tercatat 127 kasus, sementara Pinang Kencana menyusul dengan 113 kasus.
Kelurahan lainnya mencatat jumlah kasus yang bervariasi. Kelurahan Tanjung Ayun Sakti tercatat 34 kasus, Melayu Kota Piring 40 kasus, Sei Jang 28 kasus, dan Air Raja 28 kasus. Sementara kelurahan lain ada yang nihil kasus hingga hanya mencatat belasan kasus.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, lonjakan kasus DBD pada 2025 terbilang signifikan. Pada 2024 lalu, jumlah kasus DBD tercatat 277 kasus, dengan wilayah Batu 9 dan Pinang Kencana juga menjadi penyumbang terbanyak, masing-masing 46 kasus dan 64 kasus.
“Pendataan dilakukan per kelurahan. Untuk tahun 2025 memang jauh lebih tinggi dibandingkan 2024. Sementara pada awal 2026 ini, sudah tercatat 14 kasus,” ujar Kepala Dinkes Tanjungpinang, Rustam, Kamis (8/1).
Rustam menjelaskan, kelompok usia yang paling banyak terinfeksi DBD adalah usia 15 tahun ke atas, dengan persentase mencapai 48 persen. Disusul kelompok usia 10–14 tahun sebesar 24 persen.
Kemudian kelompok usia 5–9 tahun menyumbang 19 persen, usia 1–4 tahun sebanyak 7 persen, dan usia di bawah satu tahun sekitar 3 persen.
“Dalam enam bulan terakhir 2025, rata-rata terjadi 40–50 kasus per bulan, terutama saat musim hujan, dengan puncak kasus pada akhir tahun,” tambahnya.
Ia mengakui, penanganan DBD masih menghadapi kendala, terutama rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
Karena itu, pihaknya terus menggencarkan upaya pencegahan bersama dinas terkait melalui sosialisasi kepada masyarakat agar konsisten menjalankan program 3M, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
“Kami juga rutin melakukan fogging di lingkungan terdampak untuk memutus rantai penularan nyamuk *Aedes aegypti*,” pungkasnya. (*)
Reporter : Mohamad Ismail
Editor : GUSTIA BENNY