Buka konten ini

PARA peneliti Tiongkok mencatatkan terobosan besar dalam pertanian global dengan mengembangkan padi hibrida yang mampu memperbanyak benihnya sendiri melalui biji identik. Inovasi ini memungkinkan sifat unggul tanaman tetap terjaga dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Terobosan tersebut dinilai berpotensi menggandakan produksi beras dunia sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap benih hibrida berbiaya tinggi. Riset ini dikembangkan oleh tim peneliti yang dipimpin Wang Kejian dari China National Rice Research Institute, bagian dari Chinese Academy of Agricultural Sciences.
Menurut laporan media setempat, varietas padi baru ini memanfaatkan proses apomiksis, yakni mekanisme pembentukan biji tanpa pembuahan. Varietas tersebut telah diuji selama beberapa generasi di Provinsi Hainan dan Zhejiang dengan hasil yang menjanjikan.
Dilansir dari South China Morning Post, Kamis (8/1), tim peneliti menyebut teknologi ini mampu mengatasi salah satu hambatan utama padi hibrida konvensional, yaitu keharusan petani membeli benih baru setiap musim tanam.
Dengan kemampuan memperbanyak diri tanpa kehilangan sifat unggul, varietas ini dinilai dapat mengubah pola produksi beras secara struktural. Jika diadopsi secara luas, produksi beras dunia disebut berpotensi meningkat hingga dua kali lipat.
Selama ini, padi hibrida dikenal memiliki produktivitas jauh lebih tinggi dibanding varietas biasa. Di sejumlah wilayah Afrika, hasil panennya bahkan dilaporkan hampir empat kali lipat. Namun, keunggulan tersebut dibarengi biaya benih yang sangat mahal.
Harga benih padi hibrida konvensional dapat mencapai 200 yuan per kilogram, atau sekitar Rp478.000 dengan kurs Rp2.395 per yuan. Selain mahal, benih tersebut juga kehilangan sifat unggul pada generasi berikutnya, sehingga petani harus membeli benih baru setiap tahun.
Dalam wawancara dengan China Science Daily, Wang menyebut pencapaian ini sebagai pengenalan pertama sifat apomiksis ke dalam padi hibrida, sebuah terobosan dari nol ke satu. Ia menambahkan, jika teknologi ini berhasil dikomersialkan, biaya benih hibrida dapat ditekan signifikan, dari kisaran 20–100 yuan per jin menjadi sekitar 2–5 yuan per jin, setara harga benih padi konvensional.
Di kalangan ilmuwan pertanian, apomiksis kerap disebut sebagai holy grail karena memungkinkan sifat unggul padi hibrida dipertahankan secara berkelanjutan tanpa biaya benih yang tinggi.
Pandangan ini sejalan dengan pernyataan Yuan Longping, pelopor riset padi hibrida yang dijuluki “Bapak Padi Hibrida.” Ia pernah menyatakan bahwa keberhasilan apomiksis menandai terobosan signifikan dan membuka peluang penerapan padi hibrida satu garis dalam produksi.
Perkembangan terbaru yang dicapai tim Wang juga berhasil mengatasi tantangan awal riset apomiksis, seperti rendahnya tingkat pembentukan biji dan efisiensi kloning. Melalui pendekatan baru ini, sifat unggul padi hibrida dapat dipertahankan hingga lebih dari 99,7 persen pada generasi berikutnya.
Teknologi tersebut dinilai membuka peluang besar bagi petani kecil di negara berkembang yang selama ini terkendala harga benih mahal. Para pakar menilai inovasi ini dapat mempercepat upaya global mengatasi kerawanan pangan di tengah pertumbuhan penduduk yang pesat.
Meski demikian, uji lanjutan dan regulasi masih diperlukan sebelum benih apomiktik ini diproduksi massal. Jika berhasil dikomersialkan, inovasi ini diperkirakan menjadi tonggak penting pertanian modern, sejajar dengan terobosan padi hibrida pada era 1970-an, sekaligus memperkuat ketahanan pangan global di tengah perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY