Buka konten ini

SEKUPANG (BP) – Upaya penanggulangan HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS) di Kota Batam masih menghadapi berbagai tantangan serius. Rendahnya kesadaran kelompok berisiko hingga keterbatasan obat disebut menjadi faktor yang menghambat pengendalian penularan penyakit tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam Didi Kusmarjadi mengatakan, salah satu persoalan utama adalah masih minimnya kesadaran populasi kunci untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin di fasilitas layanan.
“Masih banyak populasi kunci yang belum memiliki kesadaran untuk memeriksakan diri, padahal deteksi dini sangat penting untuk mencegah penularan lebih luas,” ujar Didi, Rabu (7/1).
Ia menjelaskan, pertambahan populasi lelaki seks dengan lelaki (LSL) yang tersebar di berbagai lokasi turut menyulitkan petugas kesehatan melakukan skrining HIV dan IMS. Situasi ini juga dipengaruhi masih adanya sejumlah lokasi aktivitas (hotspot) yang tidak mengizinkan pemeriksaan kesehatan dilakukan di tempat.
Sebagai wilayah perbatasan dengan Singapura dan Malaysia, Batam menghadapi tantangan tambahan. Banyak pekerja seks, baik dari kelompok LSL maupun wanita pekerja seks (WPS), berdatangan tanpa kejelasan status kesehatan.
“Jika mereka tidak menggunakan PrEP dan tidak menjalani pemeriksaan, tentu ini berpotensi mempercepat penularan HIV dan IMS,” kata Didi.
Didi juga menyoroti rendahnya kedisiplinan penggunaan profilaksis pra pajanan (PrEP) dan kondom di kalangan populasi kunci. Hal tersebut membuat risiko penularan tetap tinggi, termasuk dari pelanggan yang enggan menggunakan pengaman.
Di sisi lain, ketersediaan obat-obatan serta bahan medis habis pakai (BMHP) juga masih terbatas. Kondisi ini menyebabkan sebagian pasien HIV dan IMS menunda pengobatan dan baru datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisinya sudah memburuk.
“Kami terus berupaya memperkuat edukasi, meningkatkan kolaborasi lintas sektor, serta memperluas akses layanan kesehatan agar penanggulangan HIV di Batam bisa lebih efektif,” tegasnya.
Dinas Kesehatan Kota Batam berharap dukungan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan pemangku kepentingan, agar program pencegahan dan pengendalian HIV berjalan lebih optimal dan berkelanjutan. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO