Buka konten ini

BATAM (BP) – Sebanyak 93 dari total 106 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Batam telah aktif melayani Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga akhir Desember 2025. Jumlah tersebut menunjukkan kesiapan Batam dalam memperluas jangkauan layanan pemenuhan gizi bagi peserta didik dan kelompok sasaran lainnya.
Koordinator Wilayah SPPG Batam, Defri Frenaldi, menyampaikan bahwa 93 dapur tersebut kini menjadi tulang punggung distribusi MBG di berbagai kawasan di Kota Batam. “Hingga akhir Desember 2025, total ada 106 SPPG yang sudah memiliki SK. Dari jumlah itu, 93 dapur sudah aktif dan melayani penerima manfaat di berbagai wilayah,” ujarnya, Rabu (7/1).
Menurut Defri, capaian ini memperlihatkan komitmen Batam dalam mendukung program prioritas nasional di bidang pemenuhan gizi. Namun, ia mengakui masih ada sejumlah dapur yang belum beroperasi. SPPG terus mendorong percepatan agar seluruh dapur tersebut segera aktif.
Saat ini, pihaknya juga tengah mempersiapkan pengoperasian dapur MBG di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Tercatat, 30 dapur 3T masih dalam tahap persiapan.
“Kami terus mendorong percepatan operasional dapur yang belum aktif, termasuk dapur di wilayah 3T, agar cakupan layanan MBG semakin luas dan merata,” tambahnya.
Defri menegaskan, layanan MBG di Batam akan kembali berjalan normal mulai Kamis, 8 Januari 2026, setelah sempat dihentikan sementara selama libur Natal dan Tahun Baru pada 1–7 Januari. Kembalinya layanan tersebut diharapkan memperkuat pemenuhan gizi penerima manfaat di awal 2026.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan, menyebut pembangunan dapur SPPG 3T kini tengah berlangsung di sejumlah wilayah terpencil. Untuk wilayah hinterland, saat ini baru satu dapur yang beroperasi di Belakang Padang. Pulau-pulau lain akan dibangun dapur SPPG 3T sebagai penopang kebutuhan gizi siswa di daerah terluar.
“Untuk hinterland, dapurnya baru ada di Belakang Padang. Untuk pulau-pulau lain nanti akan dibangun SPPG 3T, khusus wilayah yang dinyatakan terluar atau terpinggir. Dapur inilah yang akan mendukung layanan MBG,” jelasnya.
Hendri menegaskan, berapa pun jumlah siswa di pulau tersebut, layanan MBG tetap wajib tersedia. Dapur 3T tidak hanya melayani siswa sekolah, tetapi juga ibu hamil dan balita yang membutuhkan dukungan gizi. “Meski hanya ada 15 siswa, dapur tetap wajib ada. Termasuk untuk ibu hamil dan balita yang belum sekolah,” ujarnya.
Saat ini pembangunan dapur 3T masih berlangsung dan ditargetkan mulai beroperasi pada awal Januari 2026.
“Sekarang dalam proses pembangunan. Mudah-mudahan awal Januari sudah berjalan,” tandasnya. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : GALIH ADI SAPUTRO