Buka konten ini

NEW YORK (BP) – Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman terhadap sejumlah negara, mulai dari Kuba, Kolombia, Meksiko, hingga Iran. Di saat bersamaan, Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengklaim dirinya diculik dan kini menjadi “tawanan perang” setelah ditangkap otoritas AS dan dihadapkan ke pengadilan federal di New York.
Klaim tersebut disampaikan Maduro dalam sidang perdana di Pengadilan Federal Manhattan, New York, Senin (5/1) waktu setempat. Dalam sidang itu, Maduro hadir bersama istrinya, Cilia Flores.
“Saya Nicolas Maduro. Saya ditangkap di rumah saya sejak 3 Januari. Saya diculik,” kata Maduro, seperti dikutip The Guardian.
Maduro dan Flores hadir tanpa borgol, namun kaki keduanya dipasangi pembatas sehingga ruang gerak terbatas. Mereka mengenakan kemeja biru-oranye dan celana khaki. Flores menyatakan tidak bersalah dan mengaku mengalami patah tulang rusuk saat penangkapan.
Kuasa hukum Flores, Mark Donelly, meminta pengadilan memerintahkan evaluasi medis menyeluruh bagi kliennya. Sementara Maduro didampingi pengacara kriminal Barry Pollack, yang sebelumnya dikenal sebagai pembela pendiri WikiLeaks Julian Assange. Sidang perdana ini belum membahas permohonan jaminan prapersidang.
Penangkapan Maduro memicu ketegangan di Venezuela. Di Caracas, sempat terdengar rentetan tembakan ke udara. Namun Kementerian Komunikasi dan Informasi Venezuela menyebut tembakan tersebut dilakukan polisi untuk menjatuhkan drone tanpa izin, bukan bagian dari konfrontasi bersenjata.
Di tengah kasus Venezuela, Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap negara-negara lain di kawasan Amerika Latin. Kuba disebut akan “hancur” karena ketergantungannya pada minyak Venezuela. Trump mengancam tidak akan lagi memberikan pasokan minyak.
“Ada banyak warga Kuba-Amerika hebat yang akan senang dengan ini,” ujar Trump.
Trump juga menyebut Kolombia sebagai negara yang “sakit” dan menuduh Presiden Kolombia Gustavo Petro terlibat dalam produksi narkotika.
“Negara itu dipimpin oleh orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat, dan dia tidak akan bisa melakukannya lagi,” ucap Trump.
Selain itu, Trump menyoroti Meksiko yang menurutnya dipenuhi kartel narkoba kuat, serta melayangkan peringatan keras kepada Iran agar tidak memicu konflik baru di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataannya, Trump juga menyinggung Greenland yang dinilainya memiliki posisi strategis bagi keamanan nasional AS.
“Saat ini Greenland sangat strategis. Dipenuhi kapal Rusia dan Tiongkok. Kami membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional,” katanya, merujuk pada wilayah otonom di bawah Denmark tersebut. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK