Buka konten ini

NONGSA (BP) – KSOP Khusus Batam mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem dan meminta seluruh pelaku pelayaran meningkatkan kewaspadaan. Peringatan ini ditujukan kepada perusahaan pelayaran, nakhoda, operator kapal, serta masyarakat maritim di wilayah perairan Batam dan sekitarnya guna memastikan keselamatan pelayaran.
Imbauan tersebut tertuang dalam surat bernomor UM.003/22/19/KSOP.Btm/2025 tertanggal 29 Desember 2025. Surat itu merujuk pada siaran pers Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tanggal 26 Desember 2025 mengenai potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah perairan Indonesia.
Kepala KSOP Khusus Batam, M. Takwim Masuku, menegaskan bahwa kondisi cuaca buruk berpotensi menimbulkan kecelakaan laut jika tidak diantisipasi secara serius oleh seluruh pemangku kepentingan pelayaran.
“Dalam rangka meningkatkan keselamatan dan keamanan pelayaran serta meminimalisasi risiko kecelakaan kapal akibat cuaca buruk, diperlukan sinergi antara nakhoda, operator kapal, dan pengguna jasa,” ujar Takwim, Selasa (6/1).
KSOP mengimbau seluruh operator kapal, khususnya nakhoda, agar memastikan keselamatan awak kapal, penumpang, dan muatan. Nakhoda diminta rutin memperbarui informasi cuaca melalui laman resmi BMKG serta memaksimalkan penggunaan perangkat navigasi dan komunikasi.
Selain itu, nakhoda dan operator kapal diimbau menunda keberangkatan apabila kondisi cuaca tidak memungkinkan pelayaran yang aman, terutama saat jarak pandang terbatas. Kapal juga diminta berlayar dengan kecepatan aman dan memastikan seluruh peralatan navigasi berfungsi optimal.
Untuk kapal penumpang kecepatan tinggi (Passenger High Speed Craft), pengoperasian diwajibkan dilakukan dengan jumlah awak yang memadai serta penumpang sesuai sertifikat keselamatan. Jika menghadapi cuaca buruk di tengah pelayaran, kapal diminta segera berlindung di tempat aman dan melaporkan kondisi kepada syahbandar atau SROP terdekat.
Sementara itu, kapal berukuran di bawah 35 GT, termasuk tug boat, LCT, dan kapal Ro-Ro penumpang, diminta menunda pelayaran hingga cuaca dinyatakan aman oleh syahbandar. Operator juga diingatkan memastikan kapal dalam kondisi aman saat bersandar, termasuk pengikatan tali tambat dan pengamanan muatan.
Untuk kapal berukuran di atas 35 GT, termasuk kapal asing dan kapal niaga lainnya, KSOP mewajibkan pembuatan surat pernyataan tambahan yang menyatakan kesiapan serta tanggung jawab penuh terhadap keselamatan kapal, muatan, dan awak. Nakhoda juga diminta melakukan evaluasi risiko dan terus memantau perkembangan cuaca sepanjang pelayaran.
KSOP Khusus Batam menegaskan agar setiap kecelakaan kapal segera dilaporkan ke kantor KSOP atau melalui Ruang Pelayanan Publik Satu Pintu, baik melalui telepon maupun email resmi.
“Keselamatan pelayaran adalah tanggung jawab bersama. Kepatuhan terhadap peringatan cuaca dan prosedur keselamatan menjadi kunci untuk mencegah kecelakaan di laut,” tegas Takwim.
Sebelumnya, beredar video di media sosial yang memperlihatkan penumpang mengenakan jaket keselamatan di atas kapal Ferry Dumai Line. Kapal dengan rute Dumai–Batam tersebut sempat diterjang ombak setinggi 2–3 meter di perairan Tanjung Jati, Bengkalis, Minggu (4/1).
Humas Dumai Line, Asmadi, menjelaskan bahwa gelombang tinggi tersebut merupakan fenomena rutin saat musim angin Utara yang biasa terjadi pada Desember hingga Januari.
“Kalau musim Utara memang ombaknya bisa lumayan. Tapi kapal-kapal Dumai Line besar-besar, kapasitasnya hampir 400 penumpang. Ombak 2 sampai 3 meter itu masih aman,” ujar Asmadi, Senin (5/1).
Ia menegaskan kapal dalam kondisi aman dan tidak berada di laut lepas. Pada jalur pelayaran tersebut, garis pantai masih terlihat di sisi kiri dan kanan sehingga risiko dinilai masih terkendali.
“Alurnya masih kelihatan pantainya. Jadi sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan. Ini kondisi musiman yang sudah biasa kami hadapi setiap tahun,” tambahnya.
Asmadi memastikan tidak ada korban luka maupun gangguan keselamatan dalam peristiwa itu. Seluruh penumpang tiba dengan selamat.
“Tidak ada yang terluka. Selama ini penumpang aman-aman saja,” tegasnya.
Ia menambahkan, dari sisi keselamatan, kapal Dumai Line dilengkapi peralatan keselamatan melebihi standar. Setiap kapal memiliki jaket pelampung lebih dari 25 persen di atas jumlah penumpang, lifebuoy, hingga liferaft lengkap dengan perlengkapan darurat.
“Kalau kapasitas 400 penumpang, jaket pelampung harus ada tambahan sekitar 100 lagi. Jadi alat keselamatan kami lebih dari cukup,” ujarnya. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO