Buka konten ini

Wartawan Jawa Pos (Grup Batam Pos)
TIDAK dapat dipungkiri bahwa era AI banyak membuat media mengalami gejolak. Publik selama ini berkiblat ke media arus utama untuk mendapatkan informasi, kini mulai beralih platform artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Platform AI ini menjadi mesin penyedia jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dari pengguna internet. Padahal kalau disadari bahwa platform AI sebagai penyedia jawaban selama ini hanyalah entitas atau produk buatan manusia yang tidak tahu apa-apa.
Platform AI kini jadi gemaran pengguna internet karena memberikan kemudahan, menjadi jalan pintas bagi manusia- manusia yang mencari sesuatu informasi. Mulai informasi receh hingga informasi berdaging sekalipun. Padahal kita tahu platform AI itu semula belum ”punya” apa-apa. Kepintarannya pun didapatkan dari data-data yang diambil dari media-media arus utama sebagai penerbit/publisher.
Sebelum kehadiran platform AI, media arus utama dalam platform digital selama ini hadir di mesin pencari. Informasi-informasi dari media arus utama menjadi pilihan oleh pengguna. Bahkan media arus utama atau media online berebut hadir di halaman pertama mesin pencari. Alasannya, berharap menjadi pilihan utama bagi pengguna. Cara kerja seperti itu sempat menjadi trending.
Sementara, platform AI pada mulanya hanya menumpang di mesin pencari untuk bisa dicari dan dipakai oleh pengguna internet. Semula menumpang, lama-lama platform AI menjadi mesin pencari sendiri. Mirisnya lagi, mesin pencari pun menghadirkan fitur platform AI atau yang disebut AI overview. Tentu saja demi melayani kebutuhan para pengguna internet atas pertanyaan-pertanyaan yang dituliskan di mesin pencari atau mesin platform AI itu.
Akibatnya, pengguna sudah tidak lagi sibuk untuk mengolah data-data dari informasi yang ditampilkan mesin pencari. Semua tersedia dan sudah dikerjakan oleh platform AI sehingga pengguna tidak lagi harus beradu argumen atau beradu pilihan data mana yang tepat. Menariknya, jawaban-jawaban yang diberikan platform AI sudah sesuai kebutuhan pengguna.
Situasi ini terjadi sejak 2024 hingga 2025. Dampaknya, media arus utama selama ini jadi ”kiblat” atau sumber informasi mulai ditinggalkan, meskipun platform AI menyantolkan sumber data dan informasi yang diberikan itu dari media arus utama/media online. Tidak semua pengguna masuk lebih dalam ke sumber infomasi itu. Kecuali bagi mereka yang mencari verifikasi atau sadar validasi atas data atau jawaban yang diberikan AI. Pengguna seperti ini merupakan pengguna yang tidak mau keliru dalam mengolah data. Sedangkan pengguna lainnya yang jumlahnya ratusan juta tidak memedulikan validasi sumber informasi yang didapat. Mereka menyatakan dan merasa informasi yang ditampilkan platform AI sudah cukup bisa dipercaya.
Dampak dari perilaku ini, pengunjung atau pembaca media online mulai berkurang. Pengguna tidak perlu lagi masuk ke lorong-lorong informasi. Bila diterminologikan, e-commerce dan pasar konvensional, kini pengunjung pasar mulai berkurang. Mereka lebih nyaman mencari dan memilih barang yang diinginkan dari rumah tanpa harus bersusah-susah ke pasar. Naik kendaraan ke pasar, masuk ke lorong-lorong pasar untuk memastikan toko yang dituju menyediakan barang yang dibutuhkan. Bila pun bertemu masih ada beberapa pekerjaan tambahan yakni memeriksa spesifikasi, warna, ukuran, dan sebagainya. Ada potensi barang yang tidak berhasil ditemukan. Sebaliknya di e-commerce mampu menghadirkan barang yang dicari dari toko-toko resmi dan spesifikasi yang ditbutuhkan. Tidak butuh waktu lama.
Nah, apakah kehadiran jurnalisme masih dibutuhkan di tengah era AI? Bukankah semua kemauan pengguna sudah bisa dijawab oleh AI? Jurnalisme sejatinya masih dibutuhkan. Informasi sudah seperti tsunami. Semua orang bisa menyampaikan informasi, kabar, berita, dan sebagainya. Namun, informasi atau berita terverifikasi dan tervalidasi tetap lahir dari ruang redaksi. Ruang yang melakukan kerja-kerja jurnalisme dari penghimpunan informasi, data, memverifikasi data, memastikan validasi data itu sendiri hanyalah dilakukan oleh profesi jurnalis. Ruang redaksi tempat merdeka bernaungnya para jurnalis menuntut kerja-kerja kejujuran, kritis, edukatif, simpatik, penuh menjaga nilai-nilai, tidak memiliki tendesi tertentu, dan penuh pertanggungjawaban.
Cara-cara kerja seperti itu sulit kiranya lahir dari luar ruang redaksi. Kerja-kerja yang penuh menguji kebenaran dan kevalidan informasi. Pada dasarnya jurnalisme kerja yang idealis yang penuh dengan pertanggungjawaban.
Meskipun saat ini platform-platform media sosial bisa dimanfaatkan publik sebagai ruang berbagi informasi. Pemanfaatan itu pun melahirkan makhluk baru yang sudah menjamur beberapa tahun terakhir, yaitu homeless media. Media yang tidak diketahui di mana rimbanya, siapa jurnalisnya, dan di mana ruang redaksi yang menguji informasi yang didapat. Cara kerja seperti ini tidak salah. Buktinya, banyak informasi-informasi dari komunitas itu mendapat kepercayaan dari publik. Terlepas informasi itu mengandung hoax atau belum dapat diuji kebenarannya.
Dalam gelombang AI yang terus berkembang dalam bentuk beragam wajahnya dan kebutuhan informasi yang kompleks, jurnalisme mendapat tantangan besar. Kerja-kerja jurnalisme dituntut lebih kreatif, konten-konten jurnalistik yang dilahirkan tidak lagi berada pada pakem lama. Pakem yang sekadar cukup memenuhi unsur 5W1H. Itu sudah tidak cukup lagi. Tidak ada ”dagingnya”. Informasi demikian sudah banjir di berbagai macam platform media sosial. Setiap akunnya bisa berperilaku atau bersikap seperti wartawan untuk sebuah warta.
Jurnalisme kreatif, konstrukstif, kritis, dan edukatif masih dicari. Harapan itu hanya ada di ruang-ruang redaksi. Ruang redaksi yang sadar diri apa peran mereka sendiri.
Nah, apakah kehadiran jurnalisme masih dibutuhkan di tengah era AI? Bukankah semua kemauan pengguna sudah bisa dijawab oleh AI? Jurnalisme sejatinya masih dibutuhkan. Informasi sudah seperti tsunami.
Semua orang bisa menyampaikan informasi, kabar, berita, dan sebagainya. Namun, informasi atau berita terverifikasi dan tervalidasi tetap lahir dari ruang redaksi. Ruang yang melakukan kerja-kerja jurnalisme dari penghimpunan informasi, data, memverifikasi data, memastikan validasi data itu sendiri hanyalah dilakukan oleh profesi jurnalis. Ruang redaksi tempat merdeka bernaungnya para jurnalis menuntut kerja-kerja kejujuran, kritis, edukatif, simpatik, penuh menjaga nilai-nilai, tidak memiliki tendesi tertentu, dan penuh pertanggungjawaban.
Cara-cara kerja seperti itu sulit kiranya lahir dari luar ruang redaksi. Kerja-kerja yang penuh menguji kebenaran dan kevalidan informasi. Pada dasarnya jurnalisme kerja yang idealis yang penuh dengan pertanggungjawaban.
Meskipun saat ini platform-platform media sosial bisa dimanfaatkan publik sebagai ruang berbagi informasi. Pemanfaatan itu pun melahirkan makhluk baru yang sudah menjamur beberapa tahun terakhir, yaitu homeless media.
Media yang tidak diketahui di mana rimbanya, siapa jurnalisnya, dan di mana ruang redaksi yang menguji informasi yang didapat. Cara kerja seperti ini tidak salah. Buktinya, banyak informasi-informasi dari komunitas itu mendapat kepercayaan dari publik. Terlepas informasi itu mengandung hoax atau belum dapat diuji kebenarannya.
Dalam gelombang AI yang terus berkembang dalam bentuk beragam wajahnya dan kebutuhan informasi yang kompleks, jurnalisme mendapat tantangan besar. Kerja-kerja jurnalisme dituntut lebih kreatif, konten-konten jurnalistik yang dilahirkan tidak lagi berada pada pakem lama. Pakem yang sekadar cukup memenuhi unsur 5W1H.
Itu sudah tidak cukup lagi. Tidak ada ”dagingnya”. Informasi demikian sudah banjir di berbagai macam platform media sosial. Setiap akunnya bisa berperilaku atau bersikap seperti wartawan untuk sebuah warta.
Jurnalisme kreatif, konstrukstif, kritis, dan edukatif masih dicari. Harapan itu hanya ada di ruang-ruang redaksi. Ruang redaksi yang sadar diri apa peran mereka sendiri. (*)