Buka konten ini

KAMAR mandi yang nyaman tak hanya soal keramik cantik atau shower modern. Ada satu hal penting yang kerap luput dari perhatian: sistem pembuangan air. Tanpa drainase yang baik, aktivitas mandi bisa berubah jadi masalah—air menggenang, bau tak sedap muncul, hingga saluran mampet berulang.
Karena itu, memahami cara kerja aliran air di kamar mandi menjadi hal mendasar. Mulai dari penyebab saluran tersumbat, cara mengatasinya, hingga memilih sistem pembuangan yang tepat sejak awal. Perencanaan yang matang akan menyelamatkan pemilik rumah dari perbaikan mendadak yang menyita waktu dan biaya.
Sistem pembuangan air berfungsi sebagai jalur utama yang mengalirkan air kotor keluar dari kamar mandi. Jika bekerja optimal, lantai akan lebih cepat kering, kamar mandi terasa bersih, dan risiko genangan bisa ditekan. Dampaknya bukan hanya pada kenyamanan, tetapi juga kebersihan dan kesehatan.
Drainase yang lancar membantu mengendalikan kelembapan. Lingkungan yang terlalu lembap kerap menjadi sarang jamur dan lumut. Selain itu, aliran air yang baik juga memperpanjang usia material kamar mandi. Keramik, nat, hingga perlengkapan lain tidak cepat rusak karena terus-menerus terendam air.
Masalahnya, gangguan pada saluran pembuangan sering kali muncul tanpa disadari. Yang paling umum adalah saluran mampet akibat rambut, sisa sabun, atau kotoran kecil yang menumpuk. Jika dibiarkan, aliran air melambat, bahkan berhenti sama sekali, disertai bau tak sedap.
Masalah lain yang kerap terjadi adalah air menggenang di lantai. Penyebabnya bisa karena kemiringan lantai yang kurang tepat sehingga air tidak mengalir ke floor drain. Akibatnya, kamar mandi terasa lembap dan licin, sekaligus meningkatkan risiko tumbuhnya jamur.
Bau tidak sedap dari saluran pembuangan juga menjadi keluhan klasik. Biasanya berasal dari bakteri atau kotoran yang mengendap di dalam pipa, terlebih jika floor drain tidak dilengkapi sistem anti-bau atau jarang dibersihkan.
Ada pula masalah yang lebih serius, seperti pipa retak, bocor, atau mengalami korosi. Kondisi ini bisa menyebabkan rembesan air ke dinding atau lantai rumah dan berujung pada kerusakan struktural yang mahal biayanya.
Jika saluran mulai tersumbat, penanganan sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Untuk sumbatan ringan, air panas yang dicampur sabun cair bisa membantu melarutkan sisa sabun dan minyak. Plunger juga cukup efektif untuk mengatasi penyumbatan ringan hingga sedang.
Alternatif lain adalah pembersih berbahan enzim yang mampu memecah kotoran organik tanpa merusak pipa. Namun jika semua cara sudah dicoba dan hasilnya nihil, memanggil teknisi profesional adalah pilihan paling aman.
Agar masalah tidak berulang, perawatan rutin menjadi kunci. Membersihkan saringan floor drain secara berkala, menggunakan campuran baking soda dan cuka, serta memeriksa kemiringan lantai dan kondisi nat bisa menjaga aliran air tetap lancar.
Bagi yang berencana merenovasi kamar mandi, sistem drainase sebaiknya menjadi perhatian utama. Gunakan pipa berkualitas, atur kemiringan lantai sekitar 1–2 persen, dan pilih floor drain dengan penyaring ganda serta fitur anti-bau. Dengan drainase yang tepat, kamar mandi bukan hanya nyaman dipakai, tetapi juga awet dalam jangka panjang. (*)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO