Buka konten ini
BATAM (BP) – Badan Pengusahaan (BP) Batam mulai melakukan survei pengembangan dan pembangunan kawasan pedestrian atau pejalan kaki di Nagoya dan sekitarnya. Kegiatan ini dipimpin Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, bersama jajaran pejabat BP Batam dan Pemerintah Kota (Pemko) Batam, serta melibatkan sejumlah pengusaha dan perwakilan perbankan, Jumat (2/1).
Survei tersebut menjadi langkah awal penataan kawasan Nagoya yang telah ditetapkan sebagai salah satu dari lima Wilayah Pengembangan Pariwisata (WPP) yang tengah digarap BP Batam. Peninjauan lapangan dilakukan untuk melihat langsung kondisi eksisting kawasan sebelum perencanaan penataan dilakukan secara lebih komprehensif.
“Kegiatan hari ini (kemarin) merupakan survei lokasi. Nagoya Heritage dan New Nagoya termasuk dalam lima WPP yang sedang kami garap. Survei ini menjadi langkah awal untuk melihat langsung kondisi lapangan,” ujar Mouris.
Ia menjelaskan, pengembangan kawasan direncanakan membentang dari Harbour Bay hingga kawasan Pakuwon (Baloi), dengan total panjang area pedestrian sekitar 4,7 kilometer. Kawasan tersebut akan diarahkan menjadi walkable city, yakni kawasan ramah pejalan kaki yang nyaman, tertata, serta berorientasi pada aktivitas wisata dan ekonomi kreatif.
“Nagoya Heritage akan kita posisikan sebagai destinasi wisata baru di Kota Batam,” kata Mouris.
Pengembangan kawasan tidak hanya difokuskan pada kepentingan pengusaha besar, tetapi juga memberi ruang dan dukungan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Penataan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari perbaikan kios, penataan ulang tampilan kawasan, hingga pembenahan sistem pengelolaan.
Ke depan, kawasan Nagoya Heritage juga direncanakan memiliki pengelola kawasan tersendiri guna memastikan keberlanjutan penataan dan pengelolaan lingkungan.
Dari sisi infrastruktur, jalur pedestrian akan dirapikan dan ditingkatkan kualitasnya. Selain itu, disiapkan kantong-kantong parkir, perbaikan sistem lalu lintas, serta penetapan zona tertentu yang dikhususkan bagi pejalan kaki tanpa akses kendaraan bermotor.
Terkait penganggaran, proyek ini dirancang menggunakan konsep kerja sama atau gotong royong yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari BP Batam, Pemko Batam, pelaku usaha, hingga asosiasi terkait.
Pada fase pertama, fokus utama diarahkan untuk menciptakan crowd gathered, yakni menghidupkan kawasan dengan menghadirkan keramaian lebih dahulu. Momentum dua agenda besar, Imlek dan Idulfitri, akan dimanfaatkan untuk menarik kunjungan masyarakat agar aktivitas ekonomi dan sosial di sepanjang Nagoya Heritage mulai bergerak.
“Pada tahap awal ini belum ada pembangunan fisik besar. Fokusnya membangun kebiasaan baru masyarakat untuk datang, berkuliner, dan berbelanja melalui berbagai kegiatan dan event,” ujar Mouris.
Setelah kawasan mulai hidup, BP Batam akan melakukan pembenahan secara bertahap dan organik. Seiring meningkatnya kunjungan, pemilik toko dan pelaku usaha diharapkan terdorong melakukan renovasi, mempercantik tempat usaha, serta berinovasi secara mandiri. Penataan lanjutan akan dilakukan secara perlahan mengikuti perkembangan kawasan.
Jumlah pedagang kaki lima (PKL) yang terlibat dalam pengembangan kawasan ini masih dalam proses pendataan. BP Batam telah menjalin kerja sama dengan Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) yang menyatakan dukungan penuh dan siap membantu penyediaan data PKL.
Selain itu, peluang kerja sama juga dibuka dengan pihak perbankan, salah satunya Bank BRI yang dikenal sebagai pendukung UMKM. Meski masih dalam tahap diskusi dan perumusan konsep, respons dari BRI dinilai positif dan pihak perbankan tersebut turut serta dalam survei lapangan.
Dalam peninjauan tersebut, seluruh area dinilai masih membutuhkan perhatian serius. Survei melibatkan berbagai pihak, mulai dari BP Batam, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), hingga pengembang kawasan. Sejumlah persoalan diidentifikasi, seperti fasilitas penyeberangan yang belum nyaman, kondisi pedestrian yang rusak, serta sistem drainase yang belum memadai.
“Hasil survei ini akan menjadi dasar penentuan langkah perbaikan ke depan. Penataan yang dilakukan bukan untuk menertibkan atau menggusur, melainkan merapikan dan memperbaiki kondisi yang sudah ada,” kata Mouris.
Ia menambahkan, penataan juga mencakup peningkatan kualitas kios serta pembaruan sistem pendukung, termasuk metode pembayaran yang selama ini masih banyak dilakukan secara manual.
Dengan konsep penataan bertahap dan kolaboratif, BP Batam berharap Nagoya Heritage dapat tumbuh menjadi kawasan wisata perkotaan yang hidup, inklusif, serta mampu menggerakkan ekonomi lokal secara berkelanjutan. (*)
Reporter : Arjuna
Editor : Ratna Irtatik