JAKARTA – Arus investasi mulai kembali deras, minat investor asing terus berdatangan. Namun, di balik optimisme itu, kawasan industri Indonesia masih menyimpan pekerjaan rumah besar. Tata ruang yang belum sinkron, utilitas terbatas, hingga akses logistik yang belum merata menjadi tantangan utama menjelang 2026.
Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menilai 2025 sebagai tahun konsolidasi penting bagi ekosistem kawasan industri nasional. Ketua Umum HKI Akhmad Ma’ruf Maulana menyebut, kawasan industri kini tidak lagi sekadar lokasi pabrik, melainkan simpul strategis yang mempertemukan teknologi, energi, logistik, dan talenta. “2025 adalah tahun fondasi. Kawasan industri sedang menata diri untuk melaju lebih cepat di 2026,” ujarnya.
Sepanjang 2025, geliat investasi kembali terasa. Investor dari Jepang, Singapura, Tiongkok, Korea Selatan, Rusia, hingga Eropa Timur mulai melirik sektor baterai dan kendaraan listrik, logistik modern, energi terbarukan, pusat data, serta manufaktur berteknologi tinggi. Sejumlah koridor industri seperti Batam–Bintan–Karimun, Bekasi–Karawang–Subang, hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi tujuan utama, seiring membaiknya kesiapan infrastruktur.
Namun, Ma’ruf mengakui persoalan tata ruang masih menjadi ganjalan terbesar. Banyak kawasan industri, termasuk yang berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN), terkendala penerbitan PKKPR (Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang) maupun RKKPR (Rencana Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang). Ketidaksinkronan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) pusat dan daerah membuat proses perizinan memakan waktu lebih lama dari semestinya.
“Tata ruang adalah urat nadi kawasan industri. Selama perizinan dasar belum tuntas, percepatan investasi akan selalu tertahan,” tegasnya.
Selain tata ruang, ketersediaan utilitas dasar juga menjadi tantangan. Pasokan listrik dan gas industri berharga tertentu (HGBT) belum sepenuhnya mampu mengimbangi kebutuhan industri. Di beberapa kawasan, akses logistik yang belum optimal turut menekan efisiensi dan daya saing.
Memasuki 2026, HKI tetap optimistis. Pergeseran rantai pasok global dan relokasi industri membuka peluang besar bagi Indonesia.
“Jika hambatan tata ruang dan utilitas bisa diselesaikan, kawasan industri berpotensi menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkas Ma’ruf. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO