Buka konten ini
BATAM (BP) – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau menegaskan perannya sebagai penggerak utama akselerasi UMKM dan digitalisasi sistem pembayaran melalui rangkaian Event Strategis 2025.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Riau, Rony Widijarto, menyatakan setiap event strategis diposisikan sebagai engine of growth bagi UMKM dan ekosistem ekonomi digital di Kepri.
“Event strategis ini kami jadikan katalis. UMKM tidak hanya tampil, tetapi naik kelas, masuk pasar yang lebih luas, serta terhubung langsung dengan pembiayaan dan ekspor,” ujar Rony, Jumat (2/1).
Salah satu agenda unggulan adalah Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2025 yang menjadi Regional High-Level Event sekaligus puncak selebrasi pengembangan UMKM. Kegiatan ini menghadirkan pameran UMKM, business matching, fashion show, hingga kompetisi seni budaya dan olahraga.
Hasilnya, GMP 2025 mencatat capaian signifikan. BI Kepri membukukan komitmen letter of intent (LoI) ekspor senilai Rp1,4 miliar dari 24 UMKM, penjualan UMKM mencapai Rp12,85 miliar, serta kesepakatan pembiayaan sebesar Rp3,25 miliar.
“Ini bukti UMKM Kepri memiliki daya saing. Tugas kami memastikan akses pasar dan pembiayaan yang konkret,” kata Rony.
Penguatan ekonomi syariah juga menjadi fokus melalui Kepulauan Riau Ramadan Fair 2025.
Digelar di Tanjungpinang dan Batam, kegiatan ini menghadirkan UMKM Expo, literasi keuangan syariah, business matching, hingga peluncuran program QRIS 1.000 Masjid. Dari kegiatan ini, penjualan UMKM tercatat lebih dari Rp2,7 miliar dengan realisasi pembiayaan mencapai Rp2,19 miliar.
“Ekonomi syariah bukan alternatif, melainkan arus utama. Kepri berpeluang menjadi hub ekonomi halal,” kata dia.
Dalam mendorong digitalisasi transaksi, BI Kepri menggelar Creative and Innovative Riau Island Carnival (CERNIVAL) 2025. Event ini menitikberatkan peningkatan literasi digital, perlindungan konsumen, serta perluasan penggunaan QRIS. Selama tiga hari pelaksanaan, kegiatan ini menarik lebih dari 4.700 pengunjung dengan 140.026 transaksi QRIS dan nilai transaksi UMKM mencapai Rp253,6 juta—melonjak signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
“QRIS bukan sekadar alat bayar, tetapi pintu masuk inklusi keuangan,” ujar Rony.
Pendekatan wilayah kepulauan diwujudkan melalui Festival Digital Kepri (BERLAYAR) di Pulau Belakang Padang, kawasan terluar yang berbatasan langsung dengan Singapura. Menggabungkan digitalisasi dengan budaya dan partisipasi masyarakat, festival ini mencatat 49.076 transaksi QRIS dengan sekitar 1.200 peserta dalam dua hari pelaksanaan.
“Kami ingin transformasi digital menjangkau pulau-pulau terluar, bukan hanya kota besar,” katanya. (*)
Reporter : Azis Maulana
Editor : PUTUT ARIYO