Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Mengawali 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan optimisme terhadap prospek pasar modal Indonesia setelah mencatat kinerja solid, berintegritas, dan berdaya tahan sepanjang 2025. Ketangguhan tersebut teruji di tengah ketidakpastian global, mulai dari dinamika kebijakan moneter, tensi geopolitik, hingga tekanan dan sentimen perdagangan internasional.
Capaian positif itu tercermin dari penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pertumbuhan kapitalisasi pasar, meningkatnya aktivitas transaksi dan penghimpunan dana, serta lonjakan jumlah investor domestik—terutama dari kalangan generasi muda. Fondasi kuat ini menjadi pijakan OJK dalam menatap agenda strategis pengembangan pasar modal sepanjang 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menilai resiliensi pasar sepanjang 2025 merupakan hasil kolaborasi erat antara regulator, self-regulatory organization (SRO), pelaku industri, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Pasar Modal Indonesia menunjukkan daya saing yang kian menguat. Berbagai tantangan telah menguji ketangguhan kita dalam mendorong pertumbuhan berkelanjutan dan memperkokoh fondasi pasar modal ke depan. Capaian ini lahir dari kerja keras, sinergi, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Inarno, Selasa (31/12).
Acara tersebut turut dihadiri Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono, jajaran direksi dan komisaris SRO, serta pimpinan pelaku industri pasar modal.
Pada konferensi pers penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) 2025, Deputi Komisioner Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek OJK Eddy Manindo Harahap memaparkan, hingga 19 Desember 2025 IHSG tumbuh 22,10 persen secara year to date (ytd) dan ditutup di level 8.644,26. Kapitalisasi pasar menembus Rp15.810 triliun atau meningkat 28,16 persen ytd, melampaui target Roadmap Pasar Modal dan RPJMN, dengan rasio kapitalisasi terhadap PDB 2024 sebesar 71,41 persen.
Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) menguat 12,10 persen ytd ke level 440,19. Sementara itu, industri pengelolaan investasi membukukan dana kelolaan Rp1.039 triliun, tumbuh 24,16 persen ytd. Penghimpunan dana pasar modal mencapai Rp268,14 triliun dari 210 penawaran umum—termasuk 18 emiten saham baru dan dua emiten EBUS—melampaui target Rp220 triliun.
Adapun securities crowdfunding (SCF) mencatatkan penghimpunan dana akumulatif Rp1,808 triliun dari 968 penerbit.
Pada sektor perdagangan karbon, volume transaksi akumulatif sejak 26 September 2023 hingga 29 Desember 2025 mencapai 1,6 juta ton CO2 ekuivalen dengan nilai Rp80,75 miliar.
“Partisipasi tercatat dari 150 perusahaan dengan ketersediaan unit karbon 2,67 juta ton CO2 ekuivalen,” kata Inarno.
Pertumbuhan investor ritel juga menorehkan rekor. Sepanjang 2025, jumlah single investor identification (SID) bertambah 5,34 juta sehingga total mencapai 20,2 juta SID.
“Sekitar 79 persen di antaranya didominasi generasi berusia di bawah 40 tahun, menegaskan kuatnya inklusi dan pendalaman basis investor domestik,” ujarnya.
Untuk menjaga integritas pasar, OJK sepanjang 2025 melakukan 219 pemeriksaan teknis dan 155 pemeriksaan khusus atas dugaan pelanggaran, termasuk 116 kasus terkait transaksi saham. Regulator menjatuhkan 120 sanksi administratif kasus pelanggaran, 1.180 sanksi keterlambatan laporan, serta 65 sanksi nonkasus lainnya. Total denda administratif mencapai Rp123,3 miliar, disertai enam pencabutan izin, enam perintah tertulis, dan 329 peringatan tertulis.
Dari sisi regulasi, OJK menerbitkan 10 Peraturan OJK (POJK) dan enam SEOJK/PADK sepanjang 2025. Di antaranya POJK 1/2025 tentang derivatif keuangan berbasis efek, POJK 9/2025 mengenai dematerialisasi efek ekuitas dan aset tidak diklaim, serta POJK 15/2025 terkait pemeringkatan reksa dana dan manajer investasi berbasis rating dan ranking.
OJK juga meluncurkan buku rujukan perdagangan karbon bagi sektor jasa keuangan serta mengintegrasikan layanan perizinan melalui penyatuan sistem SPRINT OJK dan SPEK KSEI.
Memasuki 2026, OJK menetapkan empat agenda strategis utama. Pertama, pendalaman pasar melalui penguatan sisi penawaran, permintaan, dan infrastruktur pengawasan.
Kedua, peningkatan integritas pasar melalui efektivitas sanksi dan perbaikan kualitas emiten. Ketiga, penguatan kelembagaan perusahaan efek dan manajer investasi, termasuk ketahanan siber dan pengendalian internal. Keempat, pengembangan keuangan berkelanjutan melalui perluasan pengguna jasa bursa karbon serta penyusunan roadmap keberlanjutan 2026–2030.
“OJK bersama SRO mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat sinergi dengan pemerintah, industri, dan masyarakat. Langkah ini diharapkan mampu mendukung program strategis nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan sepanjang 2026 dan seterusnya,” tutupnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO