Buka konten ini
BATAM (BP) — Pemerintah Kota Batam terus mendorong penguatan fungsi Museum Raja Ali Haji sebagai pusat informasi sejarah dan kebudayaan Melayu. Museum ini dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber edukasi publik, tidak hanya bagi wisatawan, tetapi juga pelajar, peneliti, dan masyarakat umum.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan pembenahan museum ke depan akan difokuskan pada peningkatan kualitas informasi yang disajikan kepada pengunjung. Upaya tersebut dilakukan melalui pembaruan konsep pameran agar lebih komunikatif, mudah dipahami, dan relevan dengan perkembangan teknologi.
“Museum ini masih relatif baru, berusia sekitar empat hingga lima tahun. Salah satu masukan utama yang kami terima adalah minimnya informasi. Karena itu, kami akan melengkapinya dengan studio mini, sistem informasi digital, serta penambahan koleksi agar pengunjung benar-benar mendapatkan pengetahuan yang utuh,” ujar Ardiwinata, Kamis (25/12).
Ia menegaskan, museum tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer benda bersejarah, tetapi juga sebagai lembaga edukatif yang menyampaikan narasi sejarah secara sistematis dan menarik. Dengan dukungan teknologi digital, pengunjung diharapkan dapat memahami peran Raja Ali Haji serta sejarah dan budaya Melayu Kepulauan Riau secara lebih mendalam.
Saat ini, Museum Raja Ali Haji telah masuk dalam agenda kunjungan sejumlah biro perjalanan wisata. Museum beroperasi setiap hari pukul 10.00 hingga 17.00 WIB, dan dapat dibuka di luar jam operasional berdasarkan permintaan khusus.
“Jika ada permintaan khusus, museum bisa dibuka di luar jam operasional, tentu dengan retribusi sesuai ketentuan,” jelasnya.
Berdasarkan data rekapitulasi kunjungan tahun 2025, jumlah pengunjung Museum Raja Ali Haji tergolong signifikan. Pada Semester I 2025, tercatat sebanyak 5.269 pengunjung yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, peneliti, hingga wisatawan asing.
Kunjungan tertinggi terjadi pada Februari 2025 dengan 1.552 pengunjung, disusul Januari sebanyak 1.322 pengunjung dan Juli sebanyak 1.023 pengunjung. Museum sempat tutup pada Oktober 2025, sementara data Semester II masih dalam proses rekapitulasi.
Kehadiran wisatawan mancanegara dalam jumlah cukup besar pada bulan-bulan tertentu menunjukkan museum ini memiliki peran strategis sebagai sarana pengenalan sejarah dan budaya Batam serta Kepulauan Riau di tingkat internasional.
Ardiwinata berharap, melalui pembenahan berkelanjutan dan penguatan konten informasi berbasis digital, Museum Raja Ali Haji dapat semakin berfungsi sebagai pusat literasi sejarah dan kebudayaan, sekaligus memperkuat identitas Batam sebagai destinasi wisata edukatif dan berbudaya. (***)
Reporter : AZIS MAULANA
Editor : PUTUT ARIYO