Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Negosiasi dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat akhirnya mencapai kesepakatan setelah berbulan-bulan berjalan. Kedua negara menargetkan penandatanganan resmi perjanjian dagang resiprokal pada Januari 2026.
Kesepakatan dicapai dalam pertemuan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dengan United States Trade Representative (USTR) Ambassador Jamieson Greer di Washington D.C., Senin (22/12). Pertemuan ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat finalisasi dokumen Agreements on Reciprocal Trade (ART) antara RI dan AS.
“Semua substansi sudah selesai. Yang tersisa hanya perapihan bahasa dan proses teknis,” kata Airlangga dalam konferensi pers daring, Selasa (23/12). Menurutnya, semua isu utama maupun teknis telah disepakati, sehingga kini fokus berada pada legal drafting dokumen ART.
Perundingan intensif berlangsung sejak April 2025 menyusul pengumuman tarif resiprokal AS pada 2 April 2025. Upaya tersebut membuahkan hasil pada Juli lalu, ketika tarif resiprokal Indonesia berhasil diturunkan dari 32 persen menjadi 19 persen melalui pernyataan bersama kedua negara.
Airlangga menambahkan, kedua negara telah menyepakati jadwal penyelesaian dokumen. Tim teknis RI dan AS akan bertemu pada pekan kedua Januari 2026 untuk merampungkan legal drafting dan pembersihan dokumen, yaitu pada 12–19 Januari 2026.
Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, dokumen ART akan ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelum akhir Januari 2026. “Saat ini, pemerintah AS sedang mengatur jadwal pertemuan kedua kepala negara,” ujarnya.
Airlangga menegaskan, perjanjian ini tidak membatasi kebijakan nasional Indonesia.
“Tidak ada kebijakan Indonesia yang dibatasi. Perjanjian ini bersifat komersial dan strategis, serta menguntungkan kedua negara secara seimbang,” tegasnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO