Buka konten ini

NEW YORK (BP) – Harga emas dunia kembali melaju ke ambang tertinggi sepanjang sejarah. Pelemahan dolar Amerika Serikat (USD) serta meningkatnya ketegangan geopolitik global membuat logam mulia semakin diburu sebagai aset pelindung nilai.
Berdasarkan laporan Reuters, Selasa (23/12), harga emas di pasar spot tercatat di posisi USD 4.488,94 per ons. Sehari sebelumnya, emas bahkan sempat menyentuh level USD 4.497,55 per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka pengiriman Februari menguat 1,1 persen ke level USD 4.520,10 per ons.
Analis Swissquote, Carlo Alberto De Casa, menilai penguatan harga emas dipicu oleh menurunnya kepercayaan pasar terhadap dolar AS. Investor bereaksi terhadap ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Federal Reserve, yang diperkuat tekanan politik dari Presiden AS Donald Trump.
Menurut De Casa, keraguan terhadap kekuatan dolar mendorong investor kembali menjadikan emas sebagai pilihan utama. Situasi geopolitik yang tidak menentu turut memperbesar minat terhadap logam mulia.
Dolar AS tercatat melemah selama dua hari berturut-turut. Sejumlah analis bahkan memprediksi pelemahan kali ini berpotensi menjadi yang terdalam sejak 2017. Tekanan terhadap dolar semakin besar setelah Presiden Trump memblokade aktivitas kapal tanker minyak Venezuela, baik yang masuk maupun keluar wilayah negara tersebut, serta membuka peluang konflik dengan Amerika Latin.
Sepanjang tahun ini, harga emas telah melonjak sekitar 70 persen. Lonjakan tersebut mencerminkan pergeseran strategi investor global yang memilih instrumen aman di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik dunia.
Tak hanya emas, perak juga mencatatkan penguatan signifikan. Harga spot perak naik 0,7 persen ke level USD 69,51 per ons, setelah sempat menyentuh rekor USD 69,98. Secara tahunan, harga perak telah melonjak sekitar 142 persen dibandingkan Desember tahun lalu.
Peneliti Pepperstone, Ahmad Assiri, menilai tren kenaikan logam mulia masih berpotensi berlanjut. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO