Buka konten ini

BANDA ACEH (BP) – Lembaga Amil Zakat (LAZ) Batam bekerja sama dengan Batam Pos menggelar kegiatan pemeriksaan dan pengobatan kesehatan gratis bagi pengungsi bencana di Dusun Rantau Pauh, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, Minggu (21/12).
Ratusan warga pengungsi mendatangi posko kesehatan untuk mendapatkan layanan medis. Berdasarkan hasil pemeriksaan tim kesehatan, sebagian besar pengungsi mengeluhkan berbagai penyakit, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, maag, hipertensi, gatal-gatal, sakit kepala, batuk, dan demam.
Kegiatan tersebut disambut antusias oleh masyarakat. Ketua posko pengungsian menyampaikan apresiasi dan berharap layanan pemeriksaan serta pengobatan kesehatan dapat dilakukan secara berkelanjutan, mengingat kondisi kesehatan pengungsi masih memerlukan perhatian serius.
Ketua LAZ Batam, Syarifuddin, yang telah berada di lokasi bencana di Aceh Tamiang selama delapan hari, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat terdampak bencana.
“Selama berada di Aceh Tamiang, kami melihat langsung kondisi para pengungsi yang sangat membutuhkan layanan kesehatan. Karena itu, LAZ Batam bersama Batam Pos berupaya hadir untuk membantu dan meringankan beban masyarakat,” ujar Syarifuddin.
Selain layanan kesehatan, LAZ Batam dan Batam Pos juga terus menyalurkan bantuan kemanusiaan. Bantuan yang telah didistribusikan antara lain makanan dan minuman, kelambu, tikar, serta peralatan kebersihan seperti cangkul, sekop, dan gerobak dorong, termasuk dukungan untuk dapur umum.
Kegiatan kemanusiaan serupa sebelumnya juga telah dilakukan di sejumlah wilayah terdampak bencana di Sumatera Barat dan Aceh. LAZ Batam mengajak masyarakat untuk terus menyalurkan kepedulian bagi saudara-saudara yang terdampak bencana.
“Dukungan dan doa dari seluruh lapisan masyarakat sangat dibutuhkan agar duka yang dialami masyarakat di Sumatera dapat segera pulih,” ujarnya.
Bagi masyarakat yang ingin berdonasi, bantuan dapat disalurkan melalui Bank CIMB Niaga Syariah dengan nomor rekening 8600.0356.6100 atas nama LAZ Batam.
LAZ Batam menyampaikan terima kasih kepada seluruh donatur yang telah menyalurkan bantuan. Semoga Allah SWT membalas dengan rezeki yang berlimpah dan keberkahan.
Berjalan 20 Kilometer demi Beras dan Gas
Bagi warga Simpang Balek, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, berjalan kaki puluhan kilometer kini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Jalan kaki sejauh 20 kilometer ditempuh demi satu tujuan sederhana: mendapatkan beras, gas, dan bahan pangan.
Sejak akses jalan utama terputus akibat longsor pada akhir November lalu, Desa Rimba Raya di Kecamatan Pintu Rime Gayo berubah menjadi “pasar darurat”. Di sanalah gas elpiji, beras, BBM, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya bisa didapat—meski dengan perjuangan panjang.
Nanda, warga Pante Raya, Simpang Balek, mengatakan perjalanan menuju Rimba Raya harus melewati tiga titik longsor yang memutus total jalur darat, yakni di Timang Gajah, Tengge Besi, dan Kilometer 60. Meski tersedia jasa ojek, ia memilih berjalan kaki demi menekan biaya.
“Kalau naik ojek, sekali jalan Rp 15 ribu. Ada tiga titik, pulang pergi bisa habis Rp 90 ribu,” ujarnya kepada Rakyat Aceh, Sabtu (20/12).
Ironisnya, kebutuhan pokok sebenarnya masih tersedia di kampung mereka. Namun, harga melambung tajam akibat terhambatnya distribusi. “Gas di Simpang Balek bisa Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu. Di Rimba Raya Rp 60 ribu,” kata Nanda.
Bantuan pemerintah, menurutnya, masih sangat terbatas. Warga baru dua kali menerima bantuan beras—pertama satu kilogram per orang, lalu empat ons dari desa. Selebihnya, warga bertahan dengan kemampuan sendiri.
Kisah serupa dialami Zul Azmi. Ia harus menempuh perjalanan hingga Kilometer 60 hanya untuk mendapatkan gas elpiji. “Saya bawa dua tabung. Gas sudah langka sejak hari pertama banjir,” ujarnya.
Zul berangkat subuh dengan sepeda motor hingga Timang Gajah, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan ojek selama sekitar 15 menit. Jalur yang padat membuatnya baru bisa kembali menjelang siang.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf menegaskan pemerintah berupaya mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur yang rusak akibat banjir. Jembatan dan jalan yang terputus menjadi prioritas penanganan.
“Kita akan segera memperbaiki jembatan dan jalan yang rusak. Prosesnya kita koordinasikan dengan dinas terkait hingga ke kementerian,” ujar Mualem saat berkunjung ke Aceh Tenggara, seperti dikutip Rakyat Aceh.
Ia juga menyatakan tidak keberatan jika material banjir, seperti kayu gelondongan, dimanfaatkan masyarakat untuk keperluan rehabilitasi. Namun, penggunaannya harus diperuntukkan khusus bagi korban dan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah daerah.
“Silakan dimanfaatkan untuk korban banjir. Teknisnya agar dikoordinasikan dengan pemerintah daerah,” tegasnya.
Hunian Tetap Selesai Awal 2026
Sementara itu, Gubernur Sumatra Utara, Bobby Nasution menyampaikan pemerintah akan membangun 1.006 unit rumah bagi korban banjir dan longsor di Sumatera Utara.
Pembangunan dilakukan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman di Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara.
Pembangunan hunian dibagi dalam tiga kategori: rusak ringan, rusak berat, dan rumah hilang. Pemerintah memprioritaskan warga yang rumahnya hilang total dan telah berubah menjadi aliran sungai.
“Yang rumahnya hilang ini kita prioritaskan untuk hunian tetap tahap awal,” kata Bobby usai meninjau pembangunan Jembatan Aek Garoga, Sabtu (20/12), seperti dikutip Sumut Pos.
Pembangunan ditargetkan rampung pada awal 2026. Pemerintah daerah saat ini masih mengecek kesiapan lahan di masing-masing kabupaten.
Fasilitas Wisata Rusak
Di Sumatra Barat, bencana hidrometeorologi juga meninggalkan kerusakan pada fasilitas pariwisata Kota Pariaman. Sejumlah bangunan mengalami kerusakan pada atap dan plafon, termasuk musala Pulau Angso Duo, Pentas Seni Pantai Kata, Gedung LKAAM, Pos Pariwisata, hingga Gedung Tourist Information Center.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman Ferialdi menyebut kondisi ini berisiko bagi keselamatan pengunjung dan perlu penanganan segera. Dermaga Pulau Angso Duo bahkan mengalami kerusakan berat.
“Pulau Angso Duo merupakan destinasi unggulan dan penggerak ekonomi masyarakat. Kerusakan ini tentu berdampak besar,” ujarnya kepada Padang Ekspres. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK