Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Di wilayah perkotaan beriklim tropis seperti Indonesia, perpaduan suhu udara yang tinggi, tingkat kelembapan ekstrem, pergerakan angin yang minim, serta paparan radiasi matahari yang kuat terbukti menurunkan kenyamanan termal di ruang luar. Kondisi ini turut meningkatkan potensi terjadinya stres panas, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia.
Menghadapi proyeksi perubahan iklim yang diperkirakan kian memperburuk situasi tersebut, para pakar menilai diperlukan strategi pendinginan kota yang terintegrasi, efisien energi, dan mengandalkan solusi berbasis alam. Pendekatan itu mencakup penguatan elemen hijau dan biru perkotaan, pemanfaatan material bangunan reflektif dan berpori, optimalisasi ventilasi pasif, penataan morfologi kota, hingga perancangan bangunan yang adaptif terhadap iklim. Langkah-langkah tersebut dinilai efektif dalam menekan akumulasi panas sekaligus menurunkan konsumsi energi.
Ketua Asosiasi Rumah Modular Indonesia (ARMI), Nicolas Kesuma, menyampaikan bahwa sistem konstruksi rumah modular tidak hanya mendukung terciptanya iklim usaha yang sehat, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Menurutnya, metode ini mampu menjamin keberlanjutan pembangunan sekaligus memenuhi aspek tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Ia menjelaskan, konstruksi modular mengandalkan proses produksi yang lebih bersih dan ramah lingkungan, termasuk pemanfaatan energi terbarukan, pengelolaan limbah yang lebih tertata, serta pengurangan emisi. Dengan demikian, dampak negatif aktivitas industri terhadap lingkungan dapat diminimalkan.
Selain itu, perakitan bangunan modular yang dilakukan dari unit-unit terpisah dinilai tidak menimbulkan gangguan lingkungan di lokasi proyek. Seluruh komponen diproduksi di pabrik, lalu dikirim ke area pembangunan untuk dirangkai menjadi bangunan utuh.
“Hunian modular saat ini menjadi solusi yang paling relevan karena memiliki lima karakter utama yang dibutuhkan industri global, yakni waktu pembangunan lebih singkat, kualitas terkontrol, desain fleksibel, efisiensi biaya, serta ramah lingkungan,” ujar Nicolas saat menjadi pembicara dalam International Symposium and Workshop on Sustainable Buildings, Cities, and Communities (SBCC) 2025 di Jakarta, Senin (15/12).
SBCC 2025 sendiri digelar sebagai wadah berbagi pengetahuan, riset, dan praktik inovatif dalam merespons tantangan perubahan iklim, baik pada skala global maupun lokal. Forum ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Universitas Pendidikan Indonesia melalui University Center of Excellence for Low Carbon Building Materials and Energy (PUU MEB) dalam mendorong kolaborasi lintas sektor guna mewujudkan lingkungan binaan yang rendah karbon, tangguh, dan layak huni.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh PUU MEB bekerja sama dengan BeCool Indonesia dan TataLogam Group, Inc. Sejumlah pemangku kepentingan turut dilibatkan, mulai dari akademisi, organisasi profesi, pemerintah, pelaku industri, hingga arsitek ternama, termasuk pengembang teknologi atap dan hunian sejuk.
Selain memperkuat diskursus kebijakan serta inovasi desain, SBCC 2025 juga berkontribusi terhadap peningkatan kinerja akademik universitas melalui publikasi ilmiah bereputasi internasional yang terindeks Scopus. Tahun ini, SBCC 2025 mengangkat tema “A Sustainable Cooling for Cities: Designing for Hot and Humid Climates”, yang menegaskan pentingnya transformasi perencanaan dan desain kota di kawasan tropis. (***)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO