Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan adanya perlambatan pertumbuhan kredit perbankan sepanjang Oktober hingga November 2025. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh menyusutnya uang beredar atau uang primer yang telah disesuaikan (adjusted M0) dalam periode tersebut.
“Yang saya amati, jumlah uang yang beredar di sistem memang sedikit berkurang selama Oktober dan November,” ujar Purbaya di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (14/12).
Menanggapi situasi tersebut, Purbaya menyampaikan bahwa Bank Indonesia akan segera menyalurkan tambahan likuiditas ke sektor perbankan guna kembali meningkatkan peredaran uang di masyarakat. Langkah itu diharapkan mampu mendorong kembali laju penyaluran kredit.
“Bank sentral akan menambah likuiditas ke dalam sistem, sehingga penyaluran kredit bisa meningkat lagi,” tegasnya.
Data Bank Indonesia mencatat, uang beredar pada November 2025 mencapai Rp2.136,2 triliun atau tumbuh 13,3 persen secara tahunan (year on year/yoy). Meski masih tumbuh, laju tersebut melambat dibandingkan Oktober 2025 yang mencatat pertumbuhan 14,4 persen yoy dengan nilai Rp2.117,6 triliun.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga melaporkan perlambatan pertumbuhan kredit perbankan pada Oktober 2025. Penyaluran kredit ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bahkan mengalami kontraksi, meskipun kinerja intermediasi perbankan secara umum masih menunjukkan tren positif.
“Kinerja intermediasi perbankan tetap meningkat dengan profil risiko yang terjaga dan likuiditas yang memadai. Pada Oktober 2025, kredit tumbuh 7,36 persen yoy, melambat dari September yang sebesar 7,70 persen, dengan total penyaluran mencapai Rp8.220,21 triliun,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK sekaligus Anggota Dewan Komisioner, Dian Ediana Rae, Kamis (11/12).
Dari sisi penggunaan, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 15,72 persen, disusul kredit konsumsi yang tumbuh 7,03 persen. Sementara itu, kredit modal kerja hanya naik 2,39 persen secara tahunan.
Adapun berdasarkan kelompok debitur, kredit kepada korporasi tumbuh 11,02 persen yoy. Sebaliknya, kredit UMKM justru mengalami kontraksi sebesar 0,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO