Buka konten ini

BATAM (BP) – Halaman Art Cafe Palm Spring, Batam Center, berubah menjadi ruang pertemuan para pencinta literasi pada Sabtu (6/12) sore. Anak-anak muda dari berbagai penjuru Batam berkumpul untuk membaca, bertukar pikiran, dan berbagi gagasan dalam suasana santai namun tetap hangat.
Di atas hamparan rumput hijau, mereka duduk berkelompok. Ada yang tekun menelusuri halaman buku, ada yang larut dalam diskusi kecil, sementara lainnya mengamati percakapan sambil menunggu giliran menyampaikan pandangan. Suasana rileks, tetapi arus gagasan yang mengalir terasa kuat.
Kegiatan ini diinisiasi oleh tiga komunitas dan gerakan literasi yang aktif membuka ruang dialog di Batam: ChikiChump, Dua Lima Project, dan Ruang Urban Batam (RUBI).
Salah satu isu utama yang muncul dari peserta—yang datang dari Sekupang, Batu Aji, hingga Sei Beduk—adalah minimnya ruang publik yang nyaman dan gratis untuk membaca maupun berdiskusi. Terbatasnya akses transportasi umum juga menjadi faktor yang menyulitkan mereka menuju pusat kota.
Hannah (30), perempuan asal Amerika yang kini menjadi penggerak Komunitas Dua Lima, menuturkan bahwa kegiatan serupa sudah tiga kali mereka selenggarakan. Dua Lima sendiri, sebagai komunitas literasi, baru setahun berjalan di Batam.
Lima tahun bekerja sebagai guru IPA di sekolah internasional di Jakarta sebelum pindah ke Batam tiga tahun lalu membuat Hannah cukup memahami dunia pendidikan. Dari pengalamannya, ia melihat satu hal yang menonjol.
“Banyak warga Batam ingin belajar dan ikut berdiskusi, tetapi ruangnya hampir tidak ada,” ujarnya.
Dalam bahasa Indonesia yang kini semakin fasih ia gunakan, Hannah mencoba menjelaskan perbedaan dua istilah. “Ruangan itu kosong. Sementara ruang itu ada isinya—tempat membaca, tempat berbincang, tempat untuk hal-hal positif. Dan ruang seperti itu masih sangat sedikit di Batam,” katanya kepada Batam Pos.
Komunitas, kata Hannah, beberapa kali terpaksa menyewa kafe atau tempat sementara untuk berkegiatan. “Sebenarnya banyak yang mau membantu. Kalau ada ruangnya, kami siap menghidupkan literasi,” tambahnya.
Di sisi lain, Kiki dari ChikiChump memandang persoalan ini bukan semata soal ketersediaan fasilitas fisik, melainkan juga menyangkut struktur pembangunan kota. Ia menekankan pentingnya menempatkan manusia sebagai pusat pertumbuhan.
“Kalau hanya fokus pada ekonomi, tetapi mengabaikan manusia dan lingkungan, kota ini akan kehilangan penopangnya,” ujar lulusan Universitas Indonesia tersebut.
Menurut Kiki, pembangunan yang baik harus berangkat dari manusia. Ketika kualitas manusianya tumbuh, kota akan berkembang sejalan.
Ia berpendapat bahwa idealnya setiap kecamatan di Batam memiliki setidaknya satu ruang publik gratis yang aman, nyaman, dan mudah diakses untuk membaca, belajar, dan berdiskusi.
“Kalau ruang itu dekat dengan warga, ia akan hidup dengan sendirinya,” katanya.
Komunitas berharap aspirasi ini dapat menjadi perhatian Pemda dan pemangku kepentingan lainnya, sehingga budaya literasi di Batam dapat berkembang lebih kuat. (***)
Reporter : SYA’BAN
Editor : PUTUT ARIYO