Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Pemerintah terus mendorong perluasan jangkauan produk halal Indonesia di pasar internasional sekaligus memperkuat kemitraan dagang global. Pada awal Desember 2025, dua capaian strategis berhasil diraih: keberhasilan Paviliun Halal Indonesia di Japan International Food & Beverage Expo (JFEX) Winter 2025, serta langkah Indonesia yang mengajak negara-negara Developing-8 (D-8) memperluas kesepakatan tarif.
Kementerian Perindustrian melaporkan hasil positif dari partisipasi di JFEX yang digelar di Makuhari Messe, Chiba, Jepang. Paviliun Halal Indonesia, yang menampilkan 13 perusahaan makanan dan minuman, meraih predikat paviliun internasional terbaik.
“Besarnya minat pembeli Jepang menegaskan kualitas sekaligus daya saing produk halal kita,” ujar Kepala Pusat Industri Halal Kemenperin, Kris Sasono Ngudi Wibowo, di Jakarta, kemarin (8/10).
161 Pertemuan Bisnis, Komitmen USD 10 Juta
Dalam pameran yang berlangsung 3–5 Desember itu, Paviliun Halal Indonesia dikunjungi sekitar 4.000 orang dan membukukan potensi transaksi serta komitmen dagang mencapai USD 10 juta. Salah satu yang menonjol adalah penandatanganan letter of intent antara PT Ladang Sehat Indonesia dan TNC Okinawa senilai USD 225 ribu.
Kemenperin memfasilitasi 161 pertemuan bisnis serta menjalin penguatan kerja sama sertifikasi halal melalui kunjungan ke sejumlah lembaga halal di Jepang. “Ini penting untuk menegaskan kredibilitas sertifikasi halal Indonesia di mata dunia,” tutur Kris.
Dorong Kerja Sama Tarif D-8
Di sisi lain, Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti mendorong agar preferential trade agreement (PTA) di lingkup negara D-8 dapat ditingkatkan menjadi free trade agreement (FTA) atau comprehensive economic partnership agreement (CEPA). “Untuk mencapai target perdagangan USD 500 miliar pada 2030, perluasan kerja sama tarif dan harmonisasi regulasi menjadi keharusan,” ujarnya.
Roro menegaskan bahwa sektor produk halal perlu ditempatkan sebagai prioritas, melihat meningkatnya kebutuhan global. Ia juga mengusulkan pembentukan advisory council di bawah D-8 Chamber of Commerce sebagai wadah memperkuat kolaborasi pelaku usaha. D-8 beranggotakan Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki—negara dengan mayoritas penduduk muslim.
Pada Januari–September 2025, nilai perdagangan Indonesia dengan D-8 mencapai USD 30,1 miliar, tumbuh 9,5 persen. Ekspor Indonesia ke negara-negara tersebut didominasi produk sawit, batu bara, tembaga, dan alumina. Indonesia juga dijadwalkan menjadi tuan rumah TMC berikutnya dalam masa keketuaan D-8 periode 2026–2027. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO