Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Industri tekstil Indonesia kembali melihat peluang besar di pasar India setelah negara tersebut resmi mencabut aturan Quality Control Order (QCO) untuk produk viscose staple fiber (VSF) asal Indonesia pada akhir November. Kebijakan yang berlaku seketika itu menghapus hambatan teknis yang selama dua tahun terakhir menekan kinerja pengiriman ke India.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa keputusan India ini menjadi titik balik bagi ekspor VSF nasional. “Ini kesempatan penting bagi produsen serat buatan. Kami berharap pelaku industri segera mengoptimalkan pasar India yang kembali terbuka,” ungkapnya di Jakarta, Kamis (5/12).
Tak Lagi Perlu Sertifikasi BIS
Dengan dicabutnya QCO, produsen VSF Indonesia tidak lagi diwajibkan memiliki sertifikasi Bureau of Indian Standards (BIS) maupun memenuhi standar ISO 17266:2019 yang sebelumnya mempersulit akses pasar.
Kebijakan tersebut sebelumnya menekan ekspor Indonesia secara signifikan: nilai pengiriman turun dari USD 110,72 juta pada 2022 menjadi hanya USD 14,03 juta pada 2024. Budi menjelaskan bahwa pencabutan aturan itu merupakan hasil lobi panjang dan komunikasi intens dengan otoritas India, termasuk pembahasan teknis sertifikasi BIS dan penyampaian keberatan melalui forum WTO.
Industri Minta Regulasi Domestik Lebih Ringkas
Di sisi lain, pelaku garmen dan tekstil dalam negeri mendesak pemerintah menerapkan regulasi yang lebih sederhana serta meningkatkan kapasitas produksi lokal demi memperkuat daya saing dan melindungi pasar dari maraknya pakaian bekas impor (thrifting).
Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) Anne Patricia Sutanto menilai Indonesia punya potensi besar untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus menggenjot ekspor. Namun, ia menekankan bahwa berbagai hambatan struktural dan pemenuhan standar internasional masih menjadi tantangan.
“Kalau regulasinya lebih simpel, daya saing pasti meningkat. Pemerintah sudah punya kemauan, tinggal memastikan kebijakan berjalan searah,” katanya.
Ia menambahkan, impor bahan baku tetap diperlukan untuk produk yang membutuhkan kualitas tinggi atau teknologi tertentu. Sebab, sejumlah pabrik lokal masih terbatas dalam pengembangan produk sehingga brand global lebih memilih bahan impor. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO