Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) meminta pemerintah memperkuat perlindungan pasar domestik, membangun sistem ketelusuran bahan baku, serta meningkatkan citra Made in Indonesia agar industri tetap kompetitif dan mampu bertahan menghadapi regulasi hijau global.
Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur menyampaikan bahwa sektor mebel dan kerajinan melibatkan lebih dari 2,1 juta pekerja dan mayoritas pelakunya adalah UMKM di berbagai daerah. Karena itu, dukungan kebijakan dianggap mendesak di tengah persaingan internasional yang semakin ketat.
“Kami hanya menginginkan kesempatan yang setara untuk masuk ke pasar global yang sekarang tidak lagi fair,” ujarnya di Jakarta kemarin (7/12).
Menurut Sobur, pelaku industri siap mematuhi aturan internasional, termasuk European Union Deforestation Regulation (EUDR). Namun, ia menegaskan bahwa standar pemenuhan aturan tersebut tidak bisa disamakan antara perusahaan besar dan UMKM.
HIMKI mendorong pemerintah menyiapkan sistem ketelusuran tunggal yang setara dengan standar FSC (Forest Stewardship Council), membantu pembiayaan sertifikasi, serta menyelaraskan regulasi agar tidak menambah beban administrasi.
“Jika pemerintah tidak bergerak cepat, buyer global bisa beralih bukan karena kualitas kita kalah, tetapi karena kita menjadi tidak kompetitif,” tegasnya.
Selain itu, HIMKI juga meminta pemerintah memperkuat penegakan antidumping dan mendorong pemberian tarif ekspor preferensial untuk pasar utama. Sobur turut menekankan pentingnya peningkatan citra, desain, dan kreativitas sebagai identitas produk Indonesia. Ia mengusulkan pembentukan center of design excellence untuk memperkuat orientasi ekspor berbasis desain serta mempertemukan desainer dengan produsen di daerah.
Dengan dukungan kebijakan yang lebih terarah, HIMKI menargetkan nilai ekspor mebel dan kerajinan dapat mencapai USD 6 miliar pada 2030. Kemenperin mencatat ekspor furnitur pada kuartal II/2025 menembus USD 920 juta, naik dari USD 910 juta pada periode sama tahun sebelumnya. Sementara ekspor kerajinan tumbuh 9,11 persen menjadi USD 173,49 juta. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO