Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Pemerintah menetapkan target investasi superambisius hingga lima tahun mendatang. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut total penanaman modal yang dikejar pada 2025–2029 mencapai Rp13.032 triliun atau tumbuh 5,67 persen per tahun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Rosan Roeslani, mengatakan, target tersebut diminta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebagai syarat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional menembus 8 persen pada 2029. “Total investasi yang diharapkan dalam lima tahun ke depan adalah Rp13.032 triliun,” ujarnya di Jakarta kemarin (4/12). Angka itu melonjak jauh dibanding realisasi Rp9.100 triliun selama 2014–2024.
Rosan menambahkan yang dibutuhkan negara bukan sekadar besarannya, tetapi kualitas investasi. Transfer teknologi, peningkatan keahlian tenaga kerja lokal, dan keberlanjutan menjadi prinsip utama. “Kami inginkan investasi yang berkualitas dan berkelanjutan,” ucapnya.
Realisasi Kuartal III
Hingga kuartal III 2025, realisasi investasi telah mencapai Rp1.434,3 triliun atau 75,3 persen dari target 2025 (Rp1.905,6 triliun). Capaian itu tumbuh secara tahunan 13,7 persen (YoY).
Investasi tersebut menciptakan 1.956.346 lapangan kerja langsung. Jumlah itu naik 4,3 persen YoY. Sektor manufaktur, pertambangan, dan infrastruktur masih menjadi motor penyerapan terbesar.
Gandeng Kadin
Sementara itu, untuk mengejar target jumbo itu Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM memperkuat kemitraan dengan dunia usaha. Salah satunya lewat penandatanganan MoU antara BKPM dan Kadin Indonesia.
Ketua Umum Kadin, Anindya Novyan Bakrie, menyebutkan, kerja sama ini memudahkan akses perizinan bagi investor domestik maupun asing. “Goal-nya agar Kadin bersama mitranya memperoleh kemudahan perizinan dan mendorong investasi asing masuk,” tuturnya.
Menurut Anindya, investasi bukan hanya suntikan modal, melainkan penggerak penciptaan kerja, mendorong tumbuhnya pelaku usaha baru, dan menaikkan penerimaan pajak negara. Dia menekankan perlunya investasi yang merata dari hulu ke hilir. Dari pertanian, perindustrian, hingga infrastruktur.
Selain deregulasi, Kadin juga akan aktif menjual potensi investasi Indonesia ke pasar global. “Bukan hanya ease of doing business, tapi juga sosialisasi untuk menarik foreign direct investment,” pungkasnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO