Buka konten ini

BATAM (BP) – Buronan kelas kakap yang diduga mengendalikan penyelundupan dua ton sabu ke wilayah Kepulauan Riau (Kepri) akhirnya diringkus. Dewi Astutik, perempuan asal Ponorogo, Jawa Timur, yang disebut sebagai otak distribusi sabu senilai Rp5 triliun yang digagalkan aparat di perairan Kepri pada Mei 2025, ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam operasi senyap di Sihanoukville, Kamboja.
Penangkapan ini dipimpin Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Brigjen Roy Hardi Siahaan, dan melibatkan BAIS, Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, serta Atase Pertahanan RI. Dewi dibekuk saat berjalan menuju lobi sebuah hotel mewah pada Senin (1/12).
“Operasi ini merupakan tindak lanjut instruksi Kepala BNN RI, Suyudi Ario Seto, yang sebulan sebelumnya memerintahkan pembentukan tim khusus pengejaran internasional,” ujar Roy.
Pemain Besar Jaringan Golden Triangle
Nama Dewi mencuat setelah pengungkapan dua ton sabu dari kapal MT Sea Dragon Tarawa. Saat itu, Kepala BNN RI, Komjen Marthinus Hukom, menyebutnya sebagai figur kunci dalam jejaring narkotika internasional.
Dewi dikenal licin. Ia berganti identitas, berpindah negara, dan memanfaatkan jaringan Asia Tenggara yang dibangunnya selama bertahun-tahun.
Jejaknya hanya terendus lewat komunikasi gelap dan aliran dana mencurigakan.
BNN menduga Dewi terhubung langsung dengan pemasok narkoba kawasan Golden Triangle. Ia berperan sebagai koordinator yang mengatur jalur laut, distribusi, hingga titik penyimpanan sebelum barang masuk ke Indonesia.
Usai ditangkap, Dewi dibawa ke Phnom Penh untuk verifikasi identitas dan proses penyerahan antarlembaga. Ia dijadwalkan diterbangkan ke Indonesia pada Selasa (2/12). Namun hingga pukul 18.00 WIB tadi malam, rombongan yang membawa Dewi belum tiba di Tanah Air.
Roy menyebut Dewi juga menjadi buronan Korea Selatan. “Jejaring ini mengoperasikan distribusi narkotika berbagai jenis, termasuk kokain, sabu, dan ketamin, ke Asia Timur dan Asia Tenggara,” tuturnya.
Identitas Misterius di Kampung Halaman
Riwayat Dewi sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) turut memperumit pelacakan. Meski foto dan KTP-nya sempat beredar luas, penelusuran Radar Ponorogo (Batam Pos Group) tidak menemukan warga yang mengenal nama tersebut.
Sri Wahyuni, warga setempat, menyebut wajah di KTP mirip seorang perempuan yang lama bekerja di luar negeri.
“Kurang ingat namanya, wajahnya seperti itu. Setahu saya, dia bukan warga sini, hanya menikah dengan warga sini,” ujarnya.
Kepala Dusun Sumberagung, Gunawan, juga menegaskan hal serupa. “Alamatnya benar, tapi namanya tidak pernah tercatat,” katanya.
BNNP Kepri Belum Dapat Informasi Resmi
Di Batam, BNNP Kepri mengaku belum menerima laporan resmi mengenai penangkapan tersebut. Kabid Berantas BNNP Kepri, Kombes Nestor Simanihuruk, mengatakan ia baru mengetahui kabar itu dari pemberitaan media.
“Saya belum mendapat informasi resmi,” ujarnya.
“Untuk dari BNN pusat belum ada,” pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, penyelundupan dua ton sabu itu diduga dikendalikan warga Thailand bernama Cancai alias Thomson, yang bekerja sama dengan Dewi Astuti (Astutik).
“Dewi ini puncak jaringan. Kami sudah koordinasi dengan BIN untuk memburunya di Kamboja dan wilayah sekitarnya,” ujar Marthinus ketika itu.
Selain Dewi, BNN RI juga memburu gembong besar lainnya, Fredy Pratama, yang terdeteksi berada di wilayah konflik di Myanmar.
“Itu daerah yang tidak bisa dikontrol, bahkan dengan persenjataan lengkap,” kata Marthinus.
BNN RI mencatat 33,3 juta penduduk Indonesia tercatat sebagai pengguna narkotika.
“Indonesia adalah pasar haram terbesar,” tegas Marthinus. (*)
Reporter : YASHINTA – YOFI YUHENDRI – JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK