Buka konten ini

SUASANA Indonesia Arena, Jakarta, Jumat pagi, berubah menjadi panggung haru ketika Presiden Prabowo Subianto naik ke mimbar Puncak Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2025. Di hadapan ribuan guru, ia menyerahkan penghargaan bagi para pendidik yang selama ini bekerja dalam senyap—tetapi memberi cahaya bagi banyak anak bangsa.
Didampingi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Prabowo memanggil satu per satu figur inspiratif itu ke panggung. Salah satunya, Syifa Urrachmah, guru muda dari SLBN Banda Aceh.
Penyandang disabilitas netra itu melangkah dengan yakin, disambut tepuk tangan panjang. Syifa dikenal karena dedikasinya mengembangkan dan memanfaatkan Kombira (Komputer Bicara), teknologi yang membantu siswa tunanetra belajar lebih mandiri. Ia juga menyusun modul Kombira dalam huruf Braille, termasuk versi cetak bagi orang tua dan pendamping.
“Ini untuk murid-murid saya,” ujarnya lirih ketika menerima penghargaan, membuat suasana arena seketika menjadi syahdu.
Dari Aceh, cerita berlanjut ke Banyumas, Jawa Tengah. Umi Salamah, Kepala PKBM Tunas, naik ke panggung dengan mata berkaca-kaca. Ia adalah guru yang menjadikan rumah pribadinya sebagai ruang belajar bagi mereka yang tersisih dari pendidikan formal. Dari Kejar Paket B, kelompok bermain, taman bacaan masyarakat, hingga sekolah luar biasa—semua lahir dari rumah sederhana itu. Kini model pendidikannya menjadi rujukan lembaga-lembaga lain di seluruh Indonesia.
“Belajar itu hak semua orang,” kata Umi, yang disambut anggukan setuju dari ribuan guru di arena.
Tokoh terakhir yang dipanggil Presiden adalah Koko Triantoro, Kepala SDN Embacang Lama di Sumatera Selatan. Selama lebih dari satu dekade ia mengabdikan diri di wilayah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T) Indonesia. Koko menggerakkan Program Zero Illiteracy di 25 sekolah melalui metode Calistung Gray—membantu banyak anak yang sebelumnya bahkan belum mengenal huruf.
Prabowo menyebut para guru itu sebagai “penjaga masa depan Indonesia”.
“Tugas guru adalah tugas suci. Negara berutang budi kepada Anda semua,” ujarnya.
Puncak HGN 2025 pun ditutup dengan tepuk tangan lama. Bukan hanya untuk penghargaan, tetapi untuk seluruh cerita perjuangan yang mengalir dari panggung—cerita yang mengingatkan publik bahwa pendidikan Indonesia berdiri di atas dedikasi jutaan guru yang bekerja dengan hati. (***)
Reporter : yashinta
Editor : PUTUT ARIYO