Buka konten ini

KEPASTIAN pemberian insentif otomotif pada tahun depan masih menggantung. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memberi indikasi bahwa stimulus bagi industri kendaraan bermotor kemungkinan tidak dilanjutkan pada 2026. Sikap tersebut berbeda dengan Kementerian Perindustrian yang terus mengupayakan adanya dukungan fiskal demi menjaga pemulihan pasar otomotif.
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai industri otomotif nasional masih cukup tangguh. Penjualan kendaraan tahun ini juga terbantu oleh rangkaian pameran otomotif. Karena itu, ia menyebut belum ada kebutuhan mendesak untuk menambah insentif. “Masih dikaji. Dikaji, tapi belum diputuskan,” katanya, Kamis (28/11).
Sebaliknya, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang, tetap yakin stimulus otomotif akan diperlukan. Ia bahkan menegaskan bahwa insentif tersebut semestinya dijalankan dan dapat diterapkan pada 2026. “Kami sedang menyusunnya. Industri ini terlalu vital, punya keterkaitan hulu-hilir yang kuat,” ujarnya.
Agus menjelaskan, Kemenperin tengah merumuskan dukungan yang lebih spesifik—baik untuk konsumen agar daya beli tetap kuat, maupun untuk produsen agar kapasitas pabrik terjaga. “Kami menyusun secara lebih presisi, rinci, dan mempertimbangkan cost-benefit bagi negara serta masyarakat,” jelasnya.
Usulan tersebut nantinya akan diserahkan ke Kemenko Perekonomian untuk dievaluasi. Agus berharap pemerintah berada pada satu garis kebijakan demi menjaga momentum industri otomotif yang menyumbang besar terhadap PDB manufaktur. “Sebaiknya dilihat dulu usulannya—formatnya seperti apa dan siapa yang berhak menerima, industri atau konsumen,” tutupnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO