Buka konten ini

SURABAYA (BP) – Pemerintah terus mendorong lahirnya lebih banyak pelaku usaha baru. Skema kemitraan, termasuk waralaba, disebut sebagai cara yang efektif untuk mempercepat peningkatan rasio kewirausahaan nasional.
Direktur Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Septo Soepriyatno, menyebutkan, angka kewirausahaan Indonesia masih berada di level 3,1 persen. Padahal, untuk masuk kategori negara maju, minimal harus mencapai 10 persen.
“Kemitraan seperti waralaba bisa menjadi motor untuk memperbanyak pelaku usaha. Karena itu pameran waralaba memiliki peran penting,” katanya saat membuka IFBEX 2025 di Surabaya Convention Center, Kamis (28/11).
Ia menjelaskan, stabilnya ekonomi Jawa Timur membuat Surabaya menjadi daerah yang kondusif bagi tumbuhnya pengusaha baru. Tingginya daya beli masyarakat juga menjadi faktor penopang berkembangnya model kemitraan di kota tersebut.
Meski demikian, Septo mengingatkan agar masyarakat berhati-hati saat memilih peluang bisnis.
“Cek dulu legalitasnya, termasuk STPW (surat tanda pendaftaran waralaba) bila mengklaim sebagai waralaba. Jangan hanya melihat tampilan atau janji keuntungan,” tegasnya.
Ketua Umum Himpunan Kemitraan dan Peluang Usaha Indonesia (HIKPI) Djoko Kurniawan menambahkan, minat masyarakat terhadap franchise terus naik karena dianggap sebagai jalan cepat memasuki dunia usaha. Namun, tidak semua merek yang tampil di pameran sudah memenuhi standar waralaba.
“Kami hanya memfasilitasi pertemuan antara brand dengan calon investor. Penilaian dan keputusan tetap di tangan pengunjung,” ujarnya.
Djoko menilai Jawa Timur memiliki potensi besar. Banyak produk lokal berkualitas, tetapi belum mampu menembus pasar nasional. Karena itu, HIKPI bersama pemerintah daerah, dinas koperasi, perguruan tinggi, dan pelaku usaha terus memperkuat literasi bisnis bagi UMKM. Saat ini HIKPI memiliki lebih dari 3.000 anggota dan rutin menggelar edukasi gratis di berbagai wilayah. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO