Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Industri rempah nasional diperkirakan memasuki fase pertumbuhan signifikan pada 2026. Dorongan utamanya berasal dari meningkatnya permintaan dunia terhadap bumbu instan, produk olahan pangan, serta bahan baku yang telah tersertifikasi.
Perkembangan tersebut membuka ruang ekonomi yang semakin luas bagi pelaku usaha rempah dan bumbu Indonesia. Selama ini, sektor rempah dikenal sebagai pemasok bahan mentah dari berbagai daerah produksi, namun kini pasar bergerak ke arah produk pascapanen bernilai tambah—mulai dari pengeringan berteknologi modern, proses sterilisasi, penjaminan mutu, hingga formulasi bumbu siap pakai yang digunakan industri makanan dan minuman.
Menurut sejumlah produsen, karakter pasar rempah sudah berubah. Nilai tertinggi kini bukan lagi pada komoditas mentah, melainkan pada inovasi dan pengolahan yang mengikuti standar industri global.
Laksmi Istikasari, Sales & Marketing Manager Nekaboga, mengatakan bahwa konsumsi dalam negeri yang meningkat serta ekspansi bisnis makanan-minuman ikut mempercepat lonjakan kebutuhan tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor horeca, katering, hingga produsen makanan kemasan membutuhkan bumbu dengan kualitas konsisten, aman, dan mudah dilacak asal-usulnya.
Sebagai perusahaan yang lebih dari tiga dekade berkecimpung di industri rempah, Nekaboga mencatat bahwa pelaku industri kini mencari bahan baku yang tidak sekadar berkualitas tinggi, tetapi juga dilengkapi sertifikasi lengkap untuk mendukung ekspor dan formulasi produk.
Karena itu, banyak pabrikan bumbu memperluas lini produknya ke bentuk bernilai tambah seperti bumbu bubuk, pasta, dan sambal industri—segmen yang pertumbuhannya paling cepat dalam dua tahun terakhir.
Di sisi hulu, kolaborasi dengan petani di daerah seperti Lampung, Bangka, Jawa, dan Sulawesi semakin diperkuat. Kemitraan ini menjaga pasokan tetap stabil sekaligus meningkatkan kualitas panen melalui standar pengolahan yang lebih terukur.
Permintaan internasional menuntut keamanan pangan yang ketat, residu minim, serta proses yang terdokumentasi dengan baik. Kondisi ini mendorong industri menerapkan sistem quality control berbasis teknologi dan praktik pengadaan bahan baku secara bertanggung jawab.
Teknologi juga menjadi keunggulan kompetitif. Steam Sterilization Process—metode sterilisasi berbasis uap bertekanan—mulai menggantikan teknik kimia dan iradiasi.
Nekaboga menjadi salah satu perusahaan yang mengadopsinya, ditambah sistem pemantauan digital dan laboratorium bersertifikasi ISO/IEC 17025 untuk memastikan standar mutu setiap batch.
Penerapan teknologi tersebut membuat produk Indonesia lebih mudah diterima di pasar global yang mensyaratkan sertifikasi Halal, Kosher, FSSC 22000, hingga standar organik.
Namun demikian, meski Indonesia dikenal sebagai negara penghasil rempah, kontribusi ekspor produk olahan masih tertinggal dibanding kompetitor seperti India dan Vietnam.
Peluang sebenarnya terus terbuka lebar, terutama di pasar Amerika Serikat, Uni Eropa, Timur Tengah, dan Asia Timur yang permintaannya kian meningkat untuk seasoning mix, bumbu siap pakai, dan rempah olahan.
Didukung rantai pasok kuat dan teknologi produksi yang semakin maju, pelaku industri optimistis volume ekspor dapat terus ditingkatkan, terutama untuk produk yang memiliki sertifikasi lengkap serta memenuhi spesifikasi ketat industri global.
Melihat dinamika itu, sektor usaha sudah menyiapkan langkah ekspansi untuk 2026. Fokus utamanya meliputi penguatan layanan pengolahan berbasis pesanan (toll manufacturing), peningkatan kapasitas pabrik, perluasan pasar domestik, serta keikutsertaan dalam pameran dagang internasional.
“Ekspor tetap menjadi prioritas, namun pertumbuhan di pasar dalam negeri juga sangat pesat. Keduanya kini sama penting,” ujar Laksmi. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO