Buka konten ini

JAKARTA (BP) – PT Bank SeaBank Indonesia menegaskan eksistensinya di jajaran bank digital tanah air. Per Oktober 2025, modal inti perseroan sudah menembus Rp6 triliun. Dengan begitu, bank yang berada dalam ekosistem Sea Group tersebut resmi naik kelas ke kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 2.
Wakil Direktur Utama SeaBank, Junedy Liu, menyebutkan, kenaikan kelas itu menjadi momentum penting bagi perseroan. Apalagi, rencana penghapusan kategori KBMI 1 oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dipastikan tidak lagi berdampak terhadap SeaBank. “Kami sudah resmi menjadi KBMI 2,” ujarnya di Jakarta kemarin (26/11).
Junedy menegaskan, bertambahnya modal inti SeaBank diperoleh sepenuhnya melalui pertumbuhan bisnis, bukan suntikan modal pemegang saham. “Murni dari profit dan pertumbuhan organik,” tambahnya.
Setelah menembus KBMI 2, SeaBank menatap target lebih ambisius yakni, menuju KBMI 3 dalam beberapa tahun ke depan. “Kami ingin membuktikan bahwa bank digital memiliki daya saing dan profitabilitas jangka panjang,” tuturnya.
Kinerja SeaBank sepanjang 2025 menunjukkan laju pertumbuhan yang semakin pesat. Laba bersih kuartal III naik 40 persen secara tahunan menjadi Rp 408,5 miliar. “Hasil tersebut tidak lepas dari strategi bisnis yang konservatif dan dukungan nasabah yang makin meluas,” kata Direktur Utama SeaBank Indonesia Sasmaya Tuhuleley.
Total aset SeaBank hingga 30 September 2025 tercatat Rp39,6 triliun atau tumbuh 20 persen year on year. Penyaluran kredit melesat 45 persen menjadi Rp 28,6 triliun dengan rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terkendali di 1,9 persen.
Dana pihak ketiga (DPK) juga naik menjadi Rp 30,5 triliun yang terutama ditopang oleh giro korporasi dan tabungan ritel. Kondisi itu mendorong kenaikan rasio dana murah (CASA) ke 68 persen dari sebelumnya 65 persen. “Di sisi efisiensi, rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) semakin baik ke 21,5 persen dari 25,8 persen,” tuturnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO