Buka konten ini
SEIBEDUK (BP) – Aktivitas pemotongan bukit atau cut and fill di Bukit Kemuning, Tanjungpiayu, memicu keresahan warga yang tinggal tak jauh dari lokasi proyek.
Pengerjaan di lahan seluas sekitar dua hektare tersebut disebut-sebut menjadi penyebab banjir dan aliran lumpur yang masuk ke permukiman setiap kali hujan turun.
Kondisi itu mendapat perhatian dari Kepala Biro Umum BP Batam, Muhamad Taofan. Kepada Batam Pos, Taofan menegaskan bahwa pihaknya akan segera mengecek aktivitas cut and fill tersebut.
“Kami secepatnya akan turun bersama tim ke lokasi yang dimaksud,” ujarnya singkat.
Keluhan Menggunung, Dampak Tak Tertangani
Proyek yang dikerjakan PT Cakrawala Sukses Mandiri (CSM) ini telah berjalan selama empat bulan. Akibatnya, sedikitnya sepuluh rumah di Perumahan Bukit Kemuning Permata Residence dan Perumahan Jhon Hill terdampak langsung. Air bercampur lumpur kerap mengalir deras dari bukit menuju halaman rumah warga saat hujan.
“Air dari bukit yang dipotong turun langsung ke halaman warga. Bahkan ada yang masuk sampai ke dalam rumah,” ujar Ketua RW 16, Supardi.
Ia menuturkan, proyek serupa pernah dimulai pada 2017 namun lama terbengkalai sebelum kembali dilanjutkan pada 2025. Warga pun sudah berkali-kali melapor ke Lurah Mangsang, Camat Sei Beduk, Polsek Seibeduk, hingga BP Batam.
Dalam pertemuan sebelumnya, perusahaan diminta membangun saluran pembuangan untuk menahan limpasan air, agar tidak lagi mengarah ke permukiman.
Namun warga menilai kesepakatan itu tidak dijalankan. “Kami mengusulkan saluran air model U-blok dua meter supaya air tak masuk ke rumah. Tapi sampai sekarang belum juga dibuat,” keluh Supardi.
Ia juga menyebut kemiringan lereng mencapai 75 persen, sehingga setiap hujan deras membuat warga waswas.
Berdasarkan dokumen pengendalian dampak lingkungan yang dikeluarkan BP Batam, beberapa tokoh masyarakat menilai dokumen tersebut terlalu sederhana untuk proyek besar seperti pemotongan bukit.
“Masak kajian dampak lingkungan hanya selembar surat? Seharusnya ada kajian lengkap dari DLH. Kalau nanti terjadi bencana, siapa yang bertanggung jawab?” ujar salah seorang tokoh warga.
Surat yang dimaksud tercantum dalam dokumen bernomor B-5059/A7.2/PS.01.00/8/2025 tertanggal 15 Agustus 2025, ditandatangani Direktur Pembangunan Infrastruktur BP Batam, Boy Zasmita.
Dalam surat itu, PT CSM diwajibkan membangun U-ditch 100×100, gorong-gorong 100, serta bak kontrol sebagai bagian dari upaya pengendalian aliran air. Perusahaan juga dilarang mengalirkan air ke sisi selatan area, serta wajib melakukan uji tanah untuk memastikan stabilitas lereng.
Respons Perusahaan
Perwakilan PT CSM, Leo Angga Saputra, mengklaim bahwa persoalan lingkungan sudah ditangani sesuai aturan.
“Dampak lingkungan sudah kami tangani semua, aman sesuai permintaan. Proyek itu sudah clear, tidak ada masalah,” tulisnya melalui pesan WhatsApp.
Informasi terbaru yang diterima Batam Pos menyebutkan bahwa perusahaan mulai membangun saluran drainase untuk menahan limpasan air dari bukit. Namun warga menilai saluran tersebut belum mampu menampung volume air ketika hujan deras, sehingga banjir kecil masih terjadi.
Warga berharap pemerintah segera turun tangan menghentikan sementara aktivitas pemotongan bukit hingga seluruh izin dan dokumen lingkungan dipastikan lengkap.
Mereka juga mendesak pengembang bertanggung jawab atas kerugian yang dialami warga akibat banjir lumpur dari area proyek.
Pantauan Batam Pos, Bukit Kemuning yang dipotong terbilang terjal. Saat hujan, sudah pasti air permukaan membawa sedimen atau lumpur. Bahkan, melihat kemiringan bagian ujung yang sudah dipotong, juga berpotensi longsor. (***)
Reporter : ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO