Buka konten ini

RATUSAN pendaki bermalam di kawasan Ranu Kumbolo saat Gunung Semeru mengalami erupsi, Rabu (19/11). Letusan gunung tertinggi di Jawa itu turut mengakibatkan puluhan rumah rusak serta tiga warga mengalami luka bakar di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Basarnas menyebutkan, berdasarkan laporan petugas Pos Ranupani, terdapat 187 orang di sekitar Ranu Kumbolo saat erupsi terjadi. Mereka terdiri atas 129 pendaki, satu petugas, dua saver, 24 anggota PPGST (pemandu pendakian Semeru terdaftar), 25 pemandu gunung, serta enam personel Kementerian Pariwisata.
Sejak Rabu (19/11) pukul 07.00 hingga 10.00 WIB, kelompok ini mulai dievakuasi dengan berjalan kaki menuju Ranupani. Ranu Kumbolo merupakan titik peristirahatan pendaki yang hendak menuju atau turun dari Puncak Mahameru.
“Sebenarnya mereka tidak terjebak. Erupsi Semeru tidak berdampak ke area tersebut. Namun, evakuasi baru dilakukan Kamis (20/11) pagi demi keamanan,” ujar Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Rudijanta Tjahja Nugraha, dikutip dari Radar Jember (Group Batam Pos), kemarin.
Ia menjelaskan, evakuasi tidak memungkinkan dilakukan pada Rabu petang karena kondisi medan yang licin usai hujan, jalur menantang, dan minim pencahayaan. Berdasarkan sejarah letusan, material erupsi tidak pernah mencapai Ranu Kumbolo yang berada di sisi utara. Erupsi kali ini pun mengarah ke tenggara dan selatan sehingga area tersebut relatif aman.
Hingga tadi malam pukul 19.00, status Semeru masih berada pada Level IV atau Awas, meski aktivitas erupsi dinyatakan berakhir pada Rabu pukul 18.11. Status itu dipertahankan untuk mengantisipasi kemungkinan aktivitas lanjutan.
Untuk menjaga keselamatan, jalur pendakian ditutup sejak Rabu (19/11) hingga batas waktu yang belum ditentukan. “Wilayahnya relatif aman, tetapi jalur tetap kami tutup karena status Semeru masih Awas,” kata Rudijanta.
Sementara itu, Bupati Lumajang Indah Amperawati Masdar menetapkan status tanggap darurat erupsi selama tujuh hari, 19–25 November. Kebijakan itu diambil agar koordinasi antarlembaga berjalan lebih efektif.
“Dengan status tanggap darurat, proses evakuasi lebih cepat dan warga mendapat perlindungan yang memadai,” ujar Indah saat mendampingi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau lokasi terdampak.
Sejumlah daerah aliran sungai, seperti Kajar Kuning dan Curah Kobokan, kemarin masih mengeluarkan kepulan asap putih berbau menyengat. “Bau sekali, tidak bisa lama-lama di area ini. Harus pakai masker,” kata Siti Aminah, warga setempat.
Banyak warga penasaran dan ingin melihat area terdampak. Aparat keamanan pun berjaga ketat untuk membatasi keluar-masuk warga. “Statusnya masih Awas, dikhawatirkan terjadi erupsi susulan,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Lumajang Isnugroho.
Tak Bisa Ditempati
Kerusakan paling parah akibat awan panas terjadi di dua dusun di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo: Sumbersari dan Kamar A. Sekitar 50 rumah rusak berat.
Kedua dusun berada di jalur rawan aliran awan panas dan banjir lahar. Warga selamat karena segera mengungsi setelah sirine peringatan berbunyi. Mereka pergi tergesa-gesa tanpa sempat menyelamatkan barang berharga.
Nur Rokayah, salah seorang warga, mengatakan hewan ternak dan dokumen penting terpaksa ditinggalkan. “Tidak sempat berpikir. Yang penting keluarga selamat dan langsung lari menuju jalur evakuasi,” ujarnya.
Pantauan Radar Jember menunjukkan beberapa ternak warga mati tertutup abu panas. Puluhan rumah rusak parah, sebagian hancur dan porak-poranda. Beberapa rumah sepenuhnya tertimbun abu vulkanik dan tidak bisa ditempati lagi.
“Sekitar 50 rumah terdampak, tetapi masih kami data ulang. Saat ini warga mengungsi sambil menyelamatkan barang yang bisa dibawa,” ujar relawan, Ali Suud.
Warga Pronojiwo mengungsi ke Balai Desa Oro-Oro Ombo, Masjid Ar-Rahmah, SDN 04 Supiturang, dan Masjid Nurul Jadid. Sementara pengungsi dari Kecamatan Candipuro ditempatkan di Balai Desa Penanggal, SDN 02 Sumberurip, Kantor Kecamatan Candipuro, serta rumah Kepala Desa Sumbermujur.
“Total pengungsi di Pronojiwo dan Candipuro sebanyak 346 jiwa. Tenaga kesehatan disiagakan untuk memeriksa kondisi para pengungsi,” tutur Khofifah. (***)
Reporter : JP Group
Editor : RATNA IRTATIK