Buka konten ini

PALESTINA (BP) – Setelah dua tahun konflik yang meluluhlantakkan wilayah Gaza, perhatian dunia kini tertuju pada upaya pemulihannya. Wilayah kecil yang padat penduduk itu mengalami kerusakan infrastruktur hingga 84 persen, menurut laporan Program Pembangunan PBB (UNDP) pada Oktober 2025. Jalan, rumah sakit, sekolah, dan jaringan air bersih hancur, meninggalkan lebih dari dua juta warga Palestina dalam kondisi darurat kemanusiaan.
UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina, menegaskan bahwa pemulihan Gaza tidak hanya membutuhkan dana besar, tetapi juga komitmen politik yang kuat.
”Meskipun situasi relatif tenang, warga Gaza masih kesulitan mendapatkan tempat tinggal, makanan, dan air bersih,” ujar Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini.
Ia menambahkan bahwa musim dingin yang mendekat bisa memperburuk kondisi yang sudah kritis.
Laporan bersama dari Bank Dunia, Uni Eropa, dan PBB memperkirakan bahwa biaya rekonstruksi penuh Gaza mencapai sekitar 70 miliar dolar AS. Angka ini melonjak dari estimasi awal sebesar 53 miliar dolar AS yang diumumkan awal tahun. Kerusakan terbesar terjadi pada sektor perumahan, energi, dan layanan publik.
Di tengah tantangan yang ada, berbagai negara dan organisasi internasional mulai bergerak. Turki, Qatar, dan Mesir termasuk di antara negara yang menyatakan kesiapan untuk mendukung rekonstruksi. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bahkan menandatangani kesepakatan dalam KTT internasional di Sharm el-Sheikh untuk mendukung pemulihan Gaza secara pragmatis.
Kampanye simbolik bertajuk ”Kami Akan Bangun Kembali” juga diluncurkan oleh Pemerintah Kota Gaza bersama jaringan LSM Palestina dan relawan lokal. Kampanye ini dimulai dari pusat kota Gaza dan melibatkan pembersihan puing-puing, penanaman pohon, serta revitalisasi ruang publik.
”Kami ingin menunjukkan bahwa semangat hidup warga Gaza belum padam,” kata salah satu relawan muda.
Namun, upaya pemulihan ini menghadapi hambatan besar. Akses masuk bantuan kemanusiaan masih terbatas akibat blokade dan ketegangan politik. Lazzarini menekankan bahwa ”setiap upaya rekonstruksi harus disertai dengan layanan publik yang andal dan jalur menuju perdamaian yang berkelanjutan.”
Selain itu, laporan World Bank menyebutkan bahwa kerusakan fisik saja diperkirakan mencapai 30 miliar dolar AS. Sektor pendidikan dan kesehatan juga mengalami kerugian besar, dengan banyak fasilitas yang tidak lagi berfungsi. Hal ini memperparah krisis sosial dan ekonomi yang sudah berlangsung lama.
Masyarakat internasional juga mulai melihat Gaza sebagai peluang investasi jangka panjang. Beberapa analis menyebut bahwa rekonstruksi Gaza bisa menjadi ”perlombaan geopolitik” untuk mendapatkan pengaruh di kawasan tersebut. Namun, banyak pihak mengingatkan agar fokus utama tetap pada kebutuhan kemanusiaan warga sipil.
PBB dan mitra internasional menyerukan agar proses rekonstruksi dilakukan secara inklusif, melibatkan masyarakat lokal dan mempertahankan institusi publik yang ada.
”Keberhasilan pemulihan Gaza bergantung pada kemampuan kita untuk membangun kembali dengan cara yang adil dan berkelanjutan,” ujar Jaco Cilliers, perwakilan UNDP untuk Palestina. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY